teknik sampling

MODUL III

MACAM-MACAM TEKNIK SAMPLING

Secara umum teknik sampling dibedakan atas :
1. Teori Kemungkinan ( Probability)
2. Teori Terbatas (Non Probability)
3. Teori Gabungan ( Probability dan Non Probability)
A. Probability Sampling
1. Simple random sampling atau sampling acakan sederhana,
2. Proportionate stratified random sampling atau sampling acakan secara proposional menurut stratifikasi,
3. Disproportionate stratified random sampling atau sampling acakan secara tak-proposional menurut stratifikasi
4. Area atau “cluster” sampling, yaitu sampling menurut daerah atau pengelompokan.
Sampling Acakan
 Ciri utama ialah setiap unsur dari keseluruhan populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih.
 Kesempatan tersebut harus independen artinya kesempatan bagi setiap unsur untuk dipilih tidak mempengaruhi kesempatan unsur-unsur lain untuk dipilih.
 Sampling acakan sederhana dilakukan dengan cara
(1) undian,
(2) menggunakan tabel anggka,
(3) menggunakan komputer.
Sampling Acakan proposional dengan Stratifikasi
 Populasi biasanya perlu kita golongkan (stratifikasi) menurut ciri tertentu untuk keperluan penelitian, Misalkan stratifikasi menurut usia, menurut penghasilan, pendidikan dll
 Contoh: dari populasi yang yang sangat banyak kita atur jumlah tiap golongan atau kategori sedemikian rupa sehingga populasi berjumlah 1000 orang. Proporsi yang dipilih sebanyak 100 orang atau 10 persen. Penetuan sampel dari tiap golongan kita lakukan secara acakan. Besarnya sampel tiap golongan disesuaikan dengan proporsinya masing-masing

Sampling Acakan Tak Proposional Berdasarkan Stratifikasi

 Sampling ini kira-kira sama dengan sampling proposional. Bedanya ialah bahwa proporsi subkategori-subkategorinya tidak didasarkan atas proporsi yang sebenarnya dalam populasi. Hal ini dilakukan karena subkategori tertentu terlampau sedikit jumlah sampelnya.
 Misalkan kita mengambil populasi Dosen di UMB yang terdiri dari 1. lektor kepala, 2. lektor, 3. Asisten Ahli dan 4 tenaga pengajar. Sampel dapat diambil secara merata, yakni untuk masing-masing kategori 1/4 atau 25 persen. Besar kemungkinan sampel untuk lektor kepala terlalu kecil, sedangkan untuk tenaga pengajar terlampau besar, ataupun sebaliknya.

Sampling Daerah atau cluster

 Bila populasi tersebar disuatu daerah seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, kecamatan, dan sebagainya, maka sampling dapat dilakukan berdasarkan daerah.
 Pada peta daerah itu kita gambar petak-petak. Tiap petak diberi bernomor. Dengan sampling acakan dapat ditarik sejumlah nomor yang dijadikan sampel. Semua anggota populasi dengan ciri tertentu dalam daerah sampel itu diambil.
 Bila daerah tiu masih terlampau luas, dapat dibagi dalaam petak-petak lagi dan seterusnya. Cara ini dapat dilanjutkan, akan tetapi biasanya sampling bertingkat ini tidak melebihi tiga taraf.

B. Non Probability Sampling
Non – probability sampling dapat dilakukan dengan mudah dalam waktu yang singkat, akan tetapi hasilnya tentu tidak dapat diterima sebagai berlaku populasi seluruhnya, karena sebagian besar populasi tidak dilibatkan dalam penelitian.

Yang termasuk non – probability sampling antara lain
(1) sampling sistematis,
(2) sampling kuota,
(3) sampling aksidental,
(4) purposive sampling,
(5) saturation sampling,
(6) snowball sampling.
Sampling Sistematis
Metode sampling ini dikatakan sistematis karena mengikuti sistematika tertentu. Dengan sampling sistematis dimaksud, memilih sampel dari suatu daftar menurut urutan tertentu, misalnya tiap individu yang ke – 10 atau ke – 15, atau ke – n. Daftar itu dapat berupa daftar anggota perkumpulan, buruh perusahaan, buku telepon, kata-kata dalam kamus, daftar pegawai kantor, daftar murid, atau mahasiswa dan sebagainya.

Sampling Kuota
Sampling kuota adalah metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam jumlah atau kuota yang diinginkan.
Misalnya sejumlah mahasiswa tingkat V dari beberapa universitas tertentu yang bekerja sambil belajar

Sampel Aksidental
Sampel aksidental adalah sampel yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada, dan ditemukan dalam proses pengumpulan data, Karena sampel ini sama sekali tida reprensentatif tentu saja tak mungkin diambil suatu kesimpulan yang bersifat generalisasi.

Purposive Sampling
Sampling purposive adalah sampel yang dipilih dengan secermat mungkin hingga relevan dengan desain penelitian. Sampel diupayakan memiliki ciri-ciri yang esensial dari populasi sehingga dianggap cukup representatif. Ciri-ciri apa yang esensial, strata apa yang harus diwakili, bergantung pada penelitian atau pertimbangan atau judgement peneliti. Itu sebab purposive sampling ini disebut juga judgemental sampling.

Snowball Sampling
Dalam sampling ini kita mulai dengan kelompok kecil yang diminta untuk menunjuk kawan masing-masing. Kemudian kawan-kawan ini diminta pula menunjukkan kawan masing-masing pula, dan begitu seterusnya;
Sampling ini dipilih bila kita ingin menyelidiki hubungan antar manusia dalam kelompok yang akrab, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar di kalangan tertentu, misalnya kalangan berprofesi tertentu, dll

Sampling Jenuh ( Total) atau Padat
Sampling itu dikatakan jenuh (tuntas) bila seluruh populasi dijadikan sampel, misalnya semua guru di suatu sekolah atau semua doktor di suatu kota.
Sampling itu dikatakan padat bila jumlah sampel lebih dari setengah populasi, misalnya 250 – 300 orang dari populasi 500 orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s