TranskripsiSeperti biasa sebelum kita mulai bahas dkk, pertama

Aside

Transkripsi

Seperti biasa sebelum kita mulai bahas dkk, pertama kita harus kenalan dulu ama materi yg akan dibahas. Lalu siapa atau apa sih transkripsi itu?

Transkripsi adalah proses penyalinan kode2 genetik yang ada pada urutan DNA menjadi molekul RNA

Nah masih inget kan dogma sentral pada biomol? Kan jg nyebutin tentang pembentukan mRNA dari DNA. dimana nantinya akan ada proses lebih lanjut. Trus ntr dimana sih transkripsi itu terjadi? Kan DNA ada 2 untai. yg bisa ditranskripsiin cuma antisense

Mekanisme dasar

baik transkripsi di eukariot maupun prokariot sama2 melalui tahapan berikut:

 

  1. Penempelan faktor2 pengendali transkripsi di promotor, misalnya RNA polimerase (Inisiasi)
  2. Pembentukan kompleks promotor terbuka (open promotor complex). G seperti replikasi dmn DNA bener2 dibuka pada transkripsi pilinan DNA dibuka namun masih tetep di dalam RNA polimerase
  3. RNA polimerase membaca DNA template dan melakukan pengikatan nukleotida yg komplementer(Elongasi)
  4. Setelah pemanjangan untaian RNA, diikuti dengan terminasi yang ditandai dengan lepasnya RNA polimerase dari DNA yang ditranskripsi (Terminasi)

Prinsip pada Transkripsi

Selain mekanisme dasar yg hampir sama, pada eukariot dan prokariot keduanya memiliki prinsip sama pada proses transkripsinya:

  1. Prekursor untuk sintesis RNA ada 4 macam: 5′-trifosfat ATP, GTP, CTP, dan UTP ( g ada thymine pada RNA)
  2. Reaksi polimerisasi atau pemanjangan RNA sama ama replikasi DNA yaitu dengan arah 5′ -> 3′
  3. Urutan nukleotida RNA hasil sintesis ditentukan oleh urutan DNA template
  4. Untai DNA yang berperan sebagai cetakan hanya salah satu untai
  5. Hasil transkripsi berupa RNA untai tunggal

Transkripsi pada Prokariot

Salah satu ciri dari prokariot adalah adanya struktur operon. Operon adalah organisasi dari beberapa gen yang ekspresinya dikendalikan oleh satu promotor. Misal operon lac, pada metabolisme laktosa pada bakteri E.coli. Pada waktu ditranskripsi operon lac akan menghasilkan satu mRNA yang membawa kode2 genetik untuk polipeptida berbeda yang disebut dengan mRNA polisistronik.

 

Sesuai gambar di atas, pada operon lac punya 3 gen struktural yaitu lac Z, lac Y dan lac A. Masing2 dr gen itu punya start codon dan stop codon sendiri2 namun ekspresinya tetep dikendaliin ama operon yg sama. Trus waktu ditranskripsi hasilnya 1 mRNA yg bawa kodon2 untuk 3 macam polipeptida yg beda. Trus translasinya? nanti akan jd 3 polipeptida yang independen 

Struktur Gen Prokariot

Pada prokariot gennya secara umum tersusun atas promotor, bagian struktural, dan terminator

 

Promotor

Promotor adalah urutan DNA spesifik yang berperan dalam mengendalaikan transkripsi gen struktural dan terletak di daerah upstream (hulu) dari bagian struktural gen.

  • Fungsi promotor? Sebagai tempat awal pelekatan enzim RNA polimerase yang nantinya melakukan transkripsi pada bagian struktural

Pada prokariot bagian penting promotornya disebut sebagai Pribnow box pada urutan nukleotida -10 dan -35. Biasanya berupa TATA box.

  • Apa fungsi dari pribnow box? Pribnow box merupakan daerah tempat pembukaan heliks DNA untuk membentuk kompleks promotor terbuka. Jadi di TATA box itulah DNA dipisahkan dan kalo di luar TATA box helix DNAnya tetep berikatan (beda ama replikasi kan?)

 

Operator

Operator merupakan urutan nukelotida yang terletak di antara promotor dan bagian struktural dan merupakan tempat pelekatan protein represor (penekan atau penghambat ekspresi gen). Jika ada represor yang melekat di operator maka RNA polimerase g bisa jalan trus ekspresi gen tidak bisa berlangsung.

 

Kalo di gambar di atas operator disimbolkan dengan warna ungu yg berada di antara promotor (merah) dan structural gene (hijau).

Selain adanya supresor ada juga yg namanya enhancer. kalo supresor untuk menghambat nah enhancer kebalikannya, dia malah meningkatkan transkripsi dengan meningkatkan jumlah RNA polimerase. Namun letaknya tidak pada lokasi yg spesifik spt operator, ada yg jauh di upstreamatau bahkan downstream dari titik awal transkripsi.

Coding Region

Gen struktural merupakan bagian yang mengkode urutan nukleotida RNA. Transkripsi dimulai dari sekuens inisiasi transkripsi (ATG) sampai kodon stop (TAA / TGA / TAG).

Pada prokariot tidak ada sekuens intron (yg tidak dapat diekspresikan) sehingga semuanya berupa ekson. Namun kadang pada archaebacteria dan bakteriofag ada yg memiliki intron.

Terminator

Dicirkan dengan struktur jepit rambut / hairpin dan lengkungan yang kaya yang akan urutan GC yang terbentuk pada molekul RNA hasil transkripsi.

RNA Polimerase

RNA polimerase merupakan enzim yang mengkatalisis proses transkripsi. Kalo susunannya lengkap α2ββ’σ disebut holoenzim. Kalo g ada σ cuma α2ββ’ disebut core-enzyme.

Fungsi subuni2 itu:

α = diduga berfungsi dalam penyusunan enzim

β = berfungsi dalam pengikatan nukleotida

β’ = berfungsi dalam penempelan DNA

σ = berfungsi untuk mengarahkan agar RNA polimerase menempel pada promotor.

Mekanisme Transkripsi

Inisiasi

  • Pembentukan kompleks promoter tertutup

RNA polimerase menuju ke promoter atas bantuan faktor σ. Lalu kalo kata pak kus sih diibaratkan pesawat, sigma itu antenanya. Trus promotor itu bandaranya. Kan pesawat selalu mendarat di bandara, dibantu ama signal.

  • Pembentukan kompleks promoter terbuka

Bagian DNA yang berikatan dengan RNA polimerase membentuk struktur gelembung transkripsi (transcription bubble) yang stabil.

  • Penggabungan beberapa nukleotida awal

Dalam transkripsi nukleotida RNA digabung hingga membentuk transkrip RNA. Pada walanya basa2 RNA yang digabung membentuk ikatan hidrogen dengan basa DNA cetakan

  • Pelepasan subunit σ dan perubahan konformasi holoenzim jadi core enzyme

Setelah inisiasi terjadi, subunit σ terlepas dari enzim inti dan dapat digunakan oleh enzim inti RNA polimerase lain.

Elongasi

 

Dalam elongasi, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3′ molekul RNA yg baru terbentuk (RNA baru terbentuk dgn arah 5′ -> 3′) pake ikatan fosfodiester. Nukleotida RNA yg ditambahkan bersifat komplementer dgn nukleotida untai DNA cetakan.

Terminasi

Penghentian transkripsi atau terminator ada 2:

  1. Rho-independent yaitu terminasi ditentukan urutan nukleotida.  DIcirikan struktur jepit rambut / hairpin yang kaya akan basa GC. Mekanisme pemisahan? Akibat struktur itu, RNA polimerase ntr berhenti dan meruka bagian dari sambungan (hibrid) DNA-RNA. lalu sisa hibridnya merupakan urutan oligo U (rU) yg tidak cukup stabil berpasangan dengan A (dA) -> ikatan hidrogen cuma 2. Akibatnya Lepasnya ikatan lemah tersebut dan RNA hasil transkripsi lepas 
  2. Rho-dependent yaitu terminasi memerlukan protein rho. Faktor rho terikat pada RNA transkrip kemudian ngikut RNA polimerase sampe ke daerah terminator. Nah baru si faktor rho bikin destabilisasi ikatan RNA-DNA hingga RNA terlepas

Transkripsi pada Eukariot

Struktur gen

Secara umum hampir sama ama prokariot ada promotor, bagian struktural dan terminator. Yg beda pada bagian strukturalnya

Bagian struktural pada eukariot

Nah kenapa bagian struktural/coding region nya beda? karena kalo di eukariot ada bagian intron dan ekson.

 

  • Intro (intervening sequences) merupakan sekuens yg tidak mengkode asam amino. Kalo di gambar yg warnanya biru muda agak ijo. Ntr bagian ini akan dibuang saat pematangan RNA
  • Ekson sekuens yg nantinya dikode jd asam amino. kalo di gambar warnanya merah

Mekanisme Transkripsi

Kalo di eukariot RNA polimerasenya beda2 ada RNA polimerase I, II dan III. Ntr penggunaannya dalam sintesis molekul beda.

Sebelum RNA polimerase nempel di promotor, ada faktor transkripsi yang bantu ng-guide si RNA polimerase. Kalo RNA polimerase I guidenya SL1 dan UBF, RNA polimerase II dibantu ama TFIIA, TFIIB, TFIID, TFIIE, TFIIF, TFIIH dan TFIIJ (banyak banget ==”). kalo RNA polimerase III dipandu ama TFIIIA, TFIIIB, TFIIIC ama protein TBP.

Nah fyi aja faktor TBP merupakan protein yg diperlukan kalo gen2 g punya TATA box.

Trus setelah si RNA polimerase dibantu ama faktor transkripsi (TF) ke TATA box baru terjadi proses elongasi dan berhenti sampe ketemu terminator.

Proses pasca-transkripsi

Yep karena adanya intron pada eukariot, makanya mRNA yg dihasilkan g bisa langsung dikeluarin ke sitosol untuk ditranslasi namun harus diolah dulu. Caranya?

  1. Splicing

Merupakan proses pembuangan intron dan penyambungan ekson. Awalnya RNA hasil transkripsi pd eukariot disebut pre-mRNA karena masih ada intronnya. Trus intron akan dipotong dan ekson2 disambung menjadi mRNA matang (mature mRNA).  Untuk lebih jelasnya:

Intron dipotong pake spliceosome. lalu penyambungan ekson2 pake enzil ligase.

2.  Poliadenilasi

Merupakan proses penambahan poliA (rantai AMP) pada ujung 3′ nukleotida mRNA. Fungsinya? untuk meningkatkan stabilitas mRNA dan meningkatkan efisiensi translasinya.

3. Capping

Penambahan tudung mRNA berupa molekul 7-metilguanosin. Fungsinya ada 4:

  • Melindungi mRNA dari degradasi
  • Meningkatkan efisiensi translasi mRNA
  • Meningkatkan pengangkutan mRNA dari nukelus ke sitoplasma
  • Meningkatkan efisiensi proses splicing

Sekian dulu ya yg transkripsi. mohon koreksi kalo ada yg salah ^^b

 

TRANSKRIPSI Transkripsi (dari bahasa Inggris: transcription) adalah proses penyalinan kode-kode

Aside

TRANSKRIPSI

 

Transkripsi (dari bahasa Inggris: transcription) adalah proses penyalinan kode-kode genetika yang ada pada urutan DNA menjadi molekul RNA. Transkripsi adalah bagian dari rangkaian ekspresi genetikyang nantinya akan muncul sebagai fenotipe. Urutan nukleotida pada salah satu untaian molekul DNA digunakan sebagai cetakan untuk sintesis molekul RNA yang komplementer. Molekul RNA yang disintesis dalam proses transkripsi pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok molekul RNA, yaitu : mRNA (messenger RNA), tRNA(transfer RNA), dan rRNA (ribosomal RNA).

Proses

Transkripsi berlangsung di dalam inti sel (nukleus) atau di dalam matriks pada mitokondria dan plastida. Proses transkripsi adalah proses sintesa RNA dari template DNA, bedanya basa RNA adalah Urasil (U) sebagai gantinya timin (T). Jadi bila dalam untai DNA A maka hasil transkripsinya adalah U dan bila pada DNA T, maka pada RNA menjadi A, bila pada DNA C maka hasil transkripsi pada RNA adalah G dan sebaliknya. Contoh untai DNA AAACCGGCAAAA maka untai molekul RNA hasil transkripsi adalah RNA UUUGGCCGUUUURNA adalah untai tunggal, komplementernya DNA. RNA adalah pembawa pesan DNA urutan basa pada RNA dibaca tiga-tiga disebut kodon, mendiktekan jenis asam amino yang dikode pada tahap translasi. Jadi informasi genetik ditulis sebagai kodon dan ditranslasikan ke dalam rangkaian (urutan) asam aminoEnzim untuk mentranskripsi DNA menjadi RNA disebut RNA polymerase.

Proses transkripsi dimulai ketika enzim RNA polimerase berkontak dengan protein pada DNA yang disebut promotor. Setelah tahap transkripsi dimulai dari proses yang disebut inisiasi, yaitu ketika enzim RNA polimerase bergabung dengan promotor.Pada tiap gen, promotor hanya mengkode untuk mentranskripsi satu untai DNA saja. Bagian yang ditranskripsi berbeda antara satu gen dengan gen lainnya. Tahap transkripsi berikutnya adalah pemanjangan RNA, RNA terpisah atau menjauh dari DNA templatenya, sehingga kedua untai DNA dapat bergabung lagi, dilanjutkan dengan tahap ketiga.Tahap ketiga transkripsi adalah terminasi, yaitu ketika RNA polimerase mencapai urutan basa tertentu yang disebut terminator.

Proses transkripsi menghasilkan tiga jenis RNA, yaitu yang pertama adalah RNA yang mengkode urutan asam amino, disebut RNA pembawa atau mesenger disingkat mRNA, dan dua jenis RNA, yaitu transfer RNA disingkat tRNA sebagai molekul penerjemah dan ribosom disingkat rRNA yang menyediakan diri sebagai tempat atau pabrik pembuat protein, semuanya berperanan dalam proses translasi.mRNA yang dihasilkan bukan hanya untai dari informasi genetik dari DNA, tetapi masing-masing ujungnya diperpanjang dengan untai selain berita genetik pada proses transkripsi yang diperlukan untuk proses translasi nantinya.Berita genetik ditranslasi dalam sitoplasma. Pada prokariot semua transkripsi dan translasi terjadi dalam sitoplasma.

MEKANISME TRANSKRIPSI PADA PROKARYOT

Transkripsi pada dasarnya adalah proses penyalinan urutan nukleotida yang terdapat pada molekul DNA. Dalam proses transkripsi, hanya salah satu untaian DNA yang disalin menjadi urutan nukleotida RNA (transkip RNA). Urutan nukleotida pada transkrip RNA bersifat komplemeterdengan urutan DNA cetakan (DNA template), tetapi identik dengan urutan nukleotida DNA pada untaian pengkode (coding DNA strand/nontemplate strand). Hal ini dapat digambarkan dengan skema sederhana berikut ini: 5’-ATG GTC CTT TAC TTG TCT GTA TTT -3’ Untaian DNA pengkode

3’-TAC CAG GAA ATG AAC AGA CAT AAA -5’ Untaian DNA cetakan

 Transkripsi

5’-AUG GUC CUU UAC UUG UCU GUA UUU -3’ RNA hasil transkripsi

Perlu diingat bahwa pada struktur RNA tidak ada nukleotida T (thymine), karena struktur T digantikan oleh  U (uracil). Nukleotida T dan U mempunyai cincin yang serupa yaitu cincin pirimidin, tetapi pada basa T ada gugus metil (CH3) pada atom C nomor 5, sedangkan pada basa U tidak ada gugus metil.

Secara umum proses transkripsi pada prokaryot berjalan serupa dengan transkripsi pada eukaryot, meskipun ada beberapa rincian proses yang berbeda antara kedua system tersebut. Pada prokaryot, transkripsi dimulai dengan penempelan RNA polimerase holoenzim  pada bagian promoter suatu gen. pada awal penempelan, RNA polimerase masih belum terikat secara kuat dan struktur promoter masih dalam keadaan tertutup (closed promoter complex). Selanjutnya, RNA polimerase akan terikat secara kuat dan ikatan hydrogen molekul DNA pada bagian promoter mulai terbuka (membentuk struktur open promoter complex). Pada prokaryot, RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain. Dalam proses penempelan promoter tersebut, subunit σ berperan dalam menemukan bagian promoter suatu gen sehingga RNA polimerase dapat menempel. Diduga, proses pengenalan suatu promoter oleh RNA polimerase diawali dengan penempelan enzim tersebut secara tidak spesifik pada molekul DNA. Selanjutnya, RNA polimerase akan mencari bagian DNA yang mempunyai struktur khas suatu promoter. Struktur khas tersebut berupa suatu kelompok ikatan hydrogen anatara kedua untaian DNA pada posisi -35 dan -10. kecepatan suatu polimerase dalam menemukan promoter diperkirakan mencapai 1.000 pasangan basa per detik.

Setelah RNA polimerase menempel pada promoter, subunit σ melepaskan diri dari struktur holoenzim. Pelepasan subunit σ biasanya terjadi setelah terbentuk molekul RNA sepanjang 8-9 nukleotida. RNA polimerase inti yang sudah menempel pada promoter akan tetap terikat kuat pada DNA sehingga tidak lepas. Ikatan ini sangat penting dalam proses transkripsi selesai.

Inisiasi Transkripsi

Tahapan proses inisiasi transkripsi meliputi 4 langkah yaitu: (1) pembentukan kompleks promoter tertutup, (2) pembentukan kompleks promoter terbuka, (3) penggabungan beberapa nukleotida awal (sekiatar 10 nukleotida), dan (4) perubahan konfirmasi RNA polimerase karena subunit σ dilepaskan dari kompleks holoenzim. Subunit σ tersebut selanjutnya dapat digunakan lagi dalam proses inisiasi transkripsi selanjutnya. Bagian DNA yang terbuka setelah RNA polimerase menempel biasanya terjadi pada daerah sekitar -9 sampai +3 sehingga menjadi struktur untai tunggal. Bagian DNA yang berkaitan dengan RNA polimerase membentuk suatu struktur gelembung transkripsi (transcription bubble) sepanjang kurang lebih 17 pasang basa. Setelah struktur promoter terbuka secara stabil, maka selanjutnya RNA polimerase melakukan proses inisiasi transkripsi dengan menggunakan urutan DNA cetakan sebagai panduannya. Dalam proses transkripsi, nukleotida RNA digabungkan sehingga membentuk transkrip RNA. Nukleotida pertama yang digabungkan hampir selalu berupa molekul purin. Kajian pada 88 promoter menunjukkan bahwa 51% molekul RNA diawali dengan basa A, 42% diawali dengan G, 5% diawali dengan C, dan 2% diawali dengan U. pada awalnya basa-basa RNA yang digabungkan membentuk ikatan hidrogen dengan basa DNA cetakan, sehingga jika urutan DNA cetakan adalah ATG, maka basa RNA yang digabungkan adalah UAC.

Subunit σ mempunyai peranan dalam menstimulasi inisiasi transkripsi tetapi tidak mempercepat laju pertambahan untaian RNA. Proses inisiasi transkripsi merupakan prose yang menentukan laju transkrpisi. Inisiasi transkripsi dapat dihambat oleh pemberian antibiotic rifampisin, tetapi antibiotic ini tidak menghambat proses pemajangan transkrip. Penelitian yang dilakukan oleh Alfred Heil dan Walter Zilig pada tahun 1970 membuktikan bahwa subunit RNA polimerase yang menentukan kepekaan atau ketahanan terhadap antibiotik rifampisin adalah subunit β.

Setelah proses inisiasi transkripsi terjadi, selanjutnya subunit σ terlepas dari enzim inti dan dapat digunakan oleh enzim inti RNA polimerase yang lain.siklus subunit σ tersebut pertama kali diungkapkan oleh Travers dan Burgess pada tahun 1969. Mereka menunjukan bahwa jika transkripsi berlangsung pada kekuatan ionic yang rendah, maka RNA polimerase inti tidak terlepas dari DNA cetakan pada ujung suatu gen. Hal ini menyebabkan inisiasi transkrisi berhenti. Jika ke dalam  sistem tersebut dimasukkan  RNA polimerase inti yang baru maka, transkripsi kemudian berjalan kembali. Keadaan ini menunjukkan bahwa RNA polimerase inti yang baru tersebut kemudian bergabung dengan subunit σ yang sebelumnya telah dilepaskan dari enzim RNA polimerase inti lainnya.

Proses Pemanjangan Transkrip

Pada bagian gelembung transkripsi, basa-basa molekul RNA membentuk hibrid dengan DNA cetakan sepanjang kurang lebih 12 nukleotida. Hibrid RNA-DNA ini bersifat sementara sebab setelah RNA polimerasenya berjalan, maka hibrid tersebut akan terlepas dan bagian DNA yang terbuka tersebut akhirnya akan menutup lagi. RNA polimerase akan berjalan membaca DNA cetakan untuk melakukan proses pemanjangan (elogation) untaian RNA. Laju pemanjangan maksimum molekul transkrip RNA sekitar anatara 30 samapai 60 nukleotida perdetik, meskipun laju rata-ratanya dapat lebih rendah dari nilai ini. Secara umum, berdasarkan atas nilai laju semacam ini, suatu gen yang mengkode protein akan disalin menjadi RNA dalam waktu sekitar satu menit. Meskipun demikian, laju pemanjangan transkrip dapat menjadi sangat rendah (sekitar 0,1 nekleotida perdetik) jika RNA polimerase melewati sisi jeda (pause site) yang biasanya mengandung banyak basa GC. Proses pemanjangan transkrip dapat dihambat oleh antibioticstreptoligin. Kepekaan atau ketahanan terhadap streptoligin juga ditentukan oleh subunit β pada RNA polimerase.

Dalam pemanjangan transkrip, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3’ molekul RNA yang baru terbentuk. Nukleotida RNA yang ditambah tersebut bersifat komplementer dengan nukleotida pada untaian DNA cetakan. Sebagai contoh, jika nukleotida pada DNA cetakan adalah A, maka nukleotida RNA yang ditambahkan adalah U.

Dalam proses pemanjangan transkrip ada dua hipotesis yang diajukan mengenai perubahan topologi DNA. Hipotesis pertama menyatakan bahwa enzim RNA polimerase bergerak melingkari untaian DNA sepanjang perjalananya. Dengan cara demikian maka dapat dihindari terjadinya pelintiran pada stuktur DNA, tetapi untaian RNA hasil transkripnya akan melintir sepanjang untaian DNA. Sebaliknya, hipotesis kedua menyatakan bahwa enzim RNA polimerase bergerak lurus sepanjang untaian DNA sehingga RNA yang terbentuk tidak mengalami pelintiran, tetapi untaian DNA yang ditranskripsi harus mengalami puntiran. Untaian DNA yang ada di depan RNA polymerase akan membuka sedangkan DNA yang berada di belakangnya akan memutir kembali untuk menutup.

Dalam proses pemanjangan transkrip RNA, demikian juga pada proses inisiasi sintesis RNA, terjadi pembentukan ikatan fosfodiester antara nukleotida RNA yang satu dengan nukleotida berikutnya. Pembentukan ikatan fosfodiester tersebut ditentukan oleh keberadaan subunit β pada RNA polimerase. Transkripsi akan berakir pada saat RNA polimerase mencapai ujung gen yang disebut terminator. Pada bakteri E. coli ada dua macam terminator yaitu: (1) terminator yang tidak tergantung pada protein rho (rho-dependent terminator), dan (2)terminator yang tergantung pada protein rho(rho-independent terminator).

Pengakhiran Transkripsi yang Tidak Tidak Tergantung pada Faktor Rho

Pengakhiran terminasi yang tidak tergantung pada rho dilakukan tanpa harus melibatkan suatu protein khusus, melainkan ditentukan oleh adanya suatu urutan nukleotida tertentu pada bagian terminator. Sinyal yang akan mengakhiri transkripsi dengan mekanisme semacam ini ditentukan oleh daerah yang mengandung banyak urutan GC yang dapat membentuk struktur batang dan lengkung (stem-and-loop) pada RNA dengan panjang sekitar 20 basa di sebelah hulu dari ujung 3’ –OH dan diikuti oleh rangkaian 4-8 residu uridin berurutan. Struktur batang lengkung tersebut menyebabkan RNA polimerase berhenti dan merusak bagian 5’ dari hibrid RNA-DNA. Bagian sisa hibrid RNA-DNA tersebut berupa urutan oligo (rU) yang tidak cukup stabil berpasangan dengan dA. Akibatnya ujung 3’ hibrid tersebut akan terlepas sehingga transkripsi berakhir. Eksperimen yang dilakukan oleh Peggy Farnham dan Terry Platt menunjukkan bahwa pengakhiran transkripsi tanpa melibatkan factor rho mempunyai 2 ciri utama, yaitu, (1) adanya rangkaian basa berulang-balik (inverted repeat) yang dapat membentuk lengkungan, dan (2) adanya rangkaian basa T pada untaian DNA bukan cetakan (nontemplate strand) sehingga membentuk pasangan basa yang lemah antara rU-dA yang menahan transkrip RNA pada untaian DNA cetakan. Pada waktu lengkungan RNA terbentuk, maka RNA polimerase  berhenti dan ikatan basa yang lemah menyebabkan RNA yang baru terbentuk akan lepas.

Pengakhiran Transkripsi yang Tergantung pada Faktor Rho

Mekanisme pengakhiran transkripsi semacam ini memerlukan protein ρ (rho). Pengakhiran transkripsi yang memerlukan faktor rho hanya terjadi pada daerah jeda yang terletak pada jarak tertentu dari promoter. Dengan demikian jika ada daerah jeda yang terletak di dekat promoter, maka daerah itu tidak dapat berfungsi sebagai daerah pengakhiran transkripsi. Terminator yang tergantung pada rho terdiri atas suatu urutan berulang-balik yang dapat membentuk lengkungan (loop), tetapi tidak ada rangkaian basa T seperti pada daerah terminator yang tidak melibatkan faktor rho. Faktor rho diduga ikut teriakat pada transkip dan mengikuti pergerakan RNA polimerase sampai akhirnya RNA polimerase  berhenti pada daerah terminator yaitu sesaat setelah menyintesis lengkungan RNA. Selanjutnya, faktor rho menyebabkan destabilitasasi ikatan RNA-DNA sehingga transkrip RNA terlepas dari DNA cetakan.

MEKANISME TRANSKRIPSI PADA EUKARIOTIK

            Secara umum mekanisme pada eukariotik serupa dengan yang terjdi pada prokariotik. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pada daerah promoter. Faktor transkripsi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (1) faktor transkripsi umum, dan (2) faktor transkripsi yang khusus suatu gen. Faktor transkripsi umum mengarahkan polimerase ke promoter. Penempelan RNA polimerase pada promoter oleh faktor transkkripsi umum hanya menghasilkan transkripsi pada dasar (basal level). Pengaturan transkripsi yang lebih spesifik dilakukan oleh faktor transkripsi yang khusus untuk suatu gen. Meskipun demikian, proses penempelan tersebut sangat vital bagi keberlangsungan proses transkripsi. Setelah faktor-faktor transkripsi yang umum dan polimerase menempel pada promoter, selanjutnya akan terjadi pembentukan kompleks promoter terbuka (open promoter complex). Transkripsi dimulai pada titik awal transkripsi (RNA initiation site, RIS) yang terletak beberapa nukleotida sebelum urutan kodon awal ATG.

Pada eukariotik terdapat tiga kelas gen, yaitu gen kelas I, gen kelas II, dan gen kelas III yang masing-masing dikatalisis oleh RNA polimerase dan faktor transkripsi yang berbeda.

 

Proses transkripsi pada eukaryot

 

Proses transkripsi secara umum

 

Perbedaan Transkripsi Pada Prokariot Dan Transkripsi Pada Eukariot

Transkripsi Pada Prokariot

1. Pada prokariot, gen terdiri atas 3 bagian utama : daerah pengendali (promoter); bagian struktural dan terminator. Promoter merupakan bagian gen yang berperanan dlm mengendalikan proses transkripsi dan terletak pada ujung 5’.
Promoter pd prokariot juga terdiri atas operator. Bagian Struktural adalah bagian gen yang terletak disebelah hilir (downstream) dari promoter. Bagian inilah yg mengandung urutan DNA spesifik (kode-kode genetik) yg akan ditranskripsi.
Terminator adalah bagian gen yg terletak disebelah hilir dari bagian struktural yg berperanan dlm pengakhiran (terminasi) proses transkripsi. Fungsi terminator adalah memberikan sinyal pd enzim RNA polimerase agar menghentikan proses transkripsi. Proses terminasi transkripsi pd prokariot dpt dikelompokkan menjadi 2 kelas, yaitu 1) terminasi yg ditentukan oleh urutan nukleotida tertentu (rho-independent) dan 2) diatur oleh suatu protein (faktor rho) atau disebut rho-dependent.

2. Gen pada prokariot diorganisasikan dalam struktur operon. Contoh : operon lac (operon yg mengendalikan kemampuan metabolisme laktosa pada bakteri Escherichia coli). Adanya sistim operon karena satu promotor mengendalikan seluruh gen struktural.

3. Saat ditranskripsi, operon lac menghasilkan satu mRNA yg membawa kode-kode genetik untuk 3 macam polipeptida yg berbeda : mRNA polisistronik, artinya dalam satu transkrip dapat terkandung lebih dari satu rangkaian kodon (sistron) untuk polipeptida yang berbeda. Dengan demikian, masing-masing polipeptida akan ditranslasi secara independen dari satu untaian mRNA yg sama.

4. Ciri utama gen struktural pd prokariot adalah mulai dari sekuens inisiasi translasi (ATG) sampai kodon terakhir sebelum titik akhir translasi (kodon STOP yaitu TAA/TAG/TGA) akan diterjemahkan menjadi rangkaian asam amino.
Jadi, jika gen struktural terdiri atas 900 nukleotida maka gen tersebut akan mengkode 300 asam amino karena satu asam amino dikode oleh tiga sekuens nukleotida yang berurutan. Jadi, pada prokariot tidak ada intron (sekuens penyisip) kecuali pada beberapa archaea tertentu.

5. Pada prokariot, RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain (yang membedakan dengan eukariot)

6. Pada prokariot, proses transkripsi dan translasi berlangsung hampir secara serentak, artinya sebelum transkripsi selesai dilakukan, translasi sudah dpt dimulai.

7. Urutan nukleotida RNA hasil sintesis adalah urutan nukleotida komplementer dengan cetakannya. Misal : urutan ATG pada DNA, maka hasil transkripsinya adalah UAC. Molekul DNA yg ditranskripsi adalah untai ganda, namun yang berperanan sebagai cetakan, hanya salah satu untaiannya

8. Tahapan transkripsi pada prokariot meliputi:

1) inisiasi transkripsi (terbentuk gelembung transkripsi),

2) pemanjangan

3) terminasi (tergantung faktor rho dan tidak tergantung faktor rho)

Transkripsi pada eukariot

1. Gen eukariot dibedakan 3 kelas yaitu: Gen kelas I meliputi gen-gen yg mengkode 18SrRNA, 28SrRNA dan 5,8SrRNA (ditranskripsi oleh RNA polimerase I);
Pada gen kelas I terdapat dua macam promoter yaitu promoter antara (spacer promoter) dan promoter utama. Gen kelas II : meliputi semua gen yg mengkode protein dan bbrp RNA berukuran kecil yg terdpt di dlm nukleus (ditranskripsi oleh RNA polimerase II); Promoter gen kelas II terdiri atas 4 elemen yaitu sekuens pemulai (initiator) yg terletak pd daerah inisiasi transkripsi, elemen hilir (downstream) yg terletak disebelah hilir dari titik awal transkripsi, kotak TATA dan suatu elemen hulu (upstream) Gen kelas III : meliputi gen-gen yg mengkode tRNA, 5S rRNA dan bbrp RNA kecil yg ada di dlm nukleus (ditranskripsi oleh RNA polimerase III). Sebagian besar gen kelas III merupakan suatu cluster dan berulang

2. Tidak dikenal adanya sistim operon karena satu promotor mengendalikan seluruh gen struktural.

3. Gen pada eukariot bersifat monosistronik artinya satu transkrip yg dihasilkan hanya mengkode satu macam produk ekspresi (satu mRNA hanya membawa satu macam rangkaian kodon untuk satu macam polipeptida).

4. Pada gen struktural eukariot, keberadaan intron merupakan hal yang sering dijumpai meskipun tidak semua gen eukariot mengandung intron.

5. Mekanisme transkripsi pada eukariot pada dasarnya menyerupai mekanisme pada prokariot. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pd daerah promoter. RNA polimerase eukariot tidak menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter, melainkan melalui perantaraan protein-protein lain, yg disebut faktor transkripsi (transcription factor = TF). TF dibedakan 2, yaitu : (1) TF umum dan (2) TF yg khusus untuk suatu gen. TF umum dalam mengarahkan RNA polimerase II ke promoter adalah TFIIA, TFIIB, TFIID, TFIIE, TFIIF, TFIIH, TFIIJ.

6. Pada eukariot, proses transkripsi dan translasi tidak berlangsung secara serentak. Transkripsi berlangsung di dalam nukleus , sedangkan translasi berlangsung di dlm sitoplasma (ribosom). Dengan demikian, ada jeda waktu antara transkripsi dengan translasi, yg disebut sebagai fase pasca-transkripsi.

Pada fase ini, terjadi proses :

1). Pemotongan dan penyambungan RNA (RNA-splicing);

2). Poliadenilasi (penambahan gugus poli-A pada ujung 3’mRNA);

3). Penambahan tudung (cap) pada ujung 5’ mRNA dan

4). Penyuntingan mRNA

7. Gen eukariot mempunyai struktur berselang-seling antara sekuens yang mengkode suatu urutan spesifik (ekson) dan sekuens yg tidak mengkode urutan spesifik (intron).

 

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat di manfaatkan secara rasional. Secara langsung manfaat yang dapat dirasakan penduduk di sekitarnya adalah kayu pohon mangrove yang dipergunakan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, pembuat arang dan pulp. Selain itu hutan mangrove juga merupakan pengeksport bahan organik yang berguna tmtuk menunjang kelestarian biota akuatik (Odum & Heald, 1972). Berdasarkan segi ekologinya, hutan mangrove digunakan sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan bagi kehidupan fauna (Heald & Odum,1972; Macnae, 1974; Barnes 1974).
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi, dan pembersih air dari polutan. Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove. Dengan perkataan lain, mangrove menyediakan berbagai jenis produk dan jasa yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional, maupun nasional serta sebagai penyangga.
Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan adalah lamun, Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis lamun mempunyai beberapa fungsi penting didaerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal diseluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Oleh karena itu untuk mengetahui spesifikasi lamun maka disusunlah makalah yang membahas tentang Lamun.
Diasumsikan bahwa perbedaan dalam waktu, ada atau tidak adanya kejadian pada daerah yang tinggi pada daerah yang spesifik yang merupakan refleksi perbedaan dalam fungsi dari ekosistem lamun, misal kondisi cahaya. temperatur, salinitas. substrat dan nutrien. Perbedaan dalam fenologi antara daerah setempat dengan daerah geografi lainnya mungkin disebabkan perbedaan faktor genetik, produksi, rantai makanan, dekomposisi, toleransi tanaman dan respon terhadap gangguan. Fenologi seharusnya merupakan bagian dari studi produktifitas sejak adanya hubungan aliran energi.
B. Rumusan masalah
Permasalahan yang hendak dikaji dalam makalah ini adalah menitik beratkan pada pembagian jenis mangrove dan lamun, bagaimana pula karakteristik dari mangrove dan lamun serta bagaimana kehidupan organisme yang hidup di sekitar mangrove dan lamun.
C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui pembagian jenis dari mangrove dan lamun
2. Untuk mengetahui karakteristik dari tumbuhan mangrove dan lamun
3. Untuk mengetahui kehidupan organisme di sekitar mangrove dan lamun
D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Melatih dalam menyusun penulisan karya ilmiah.
2. Memberikan informasi mengenai mangrove dan lamun suatu perairan laut, karakter serta organisme yang ada di dalamnya.
3. Sebagai bahan acuan dalam diskusi pengembangan materi Hidrobiologi.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
A. Penegertian dan Manfaat Mangrove
Kata “mangrove” digunakan untuk menjelaskan tumbuhan yang hidup di daerah tropis pada komunitas hutan intertidal atau pada komunitas mangrove (Tomlinson, 1986). Snedaker (1978) dalam Arief (2003) memberikan pengertian yang panjang mengenai mangrove yaitu suatu kelompok jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropika dan subtropika yang terlindung dan memiliki semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob. Istilah mangrove digunakan secara luas untuk menamai tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan baik pada ekosistem hutan tropis dan subtropis pasang-surut, meliputi pantai dangkal, muara sungai, delta, rawa belakang dan laguna.
Mangrove dapat ditemukan di muara sungai, di pinggir teluk yang terlindung, di sekitar genangan air payau di pesisir pantai dan banyak juga terdapat di pulau-pulau kecil di Indonesia.
Menurut Tomlinson (1986), vegetasi mangrove tersusun atas tiga komponen, yaitu :
1. Mangrove mayor (true mangrove) memiliki sifat-sifat berikut:
a) Sepenuhnya hidup pada ekosistem mangrove di kawasan pasang surut, di antara rata ketinggian pasang perbani (pasang rata-rata) dan pasang purnama (pasang tertinggi), serta tidak tumbuh di ekosistem lain.
b) Memiliki peranan penting dalam membentuk struktur komunitas mangrove dan dapat membentuk tegakan murni.
c) Secara morfologi beradaptasi dengan lingkungan mangrove, misalnya memiliki akar aerial dan embryo vivipar.
d) Secara fisiologi beradaptasi dengan kondisi salin, sehingga dapat tumbuh di laut, karena memiliki mekanisme untuk menyaring dan mengeluarkan garam, misalnya melalui alat ekskresi.
e) Secara taksonomi berbeda dengan kerabatnya yang tumbuh di darat, setidak-tidaknya terpisah hingga tingkat genus.
Antara lain: Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Nypa fruticans, Rhizophora, dan Sonneratia.
2. Mangrove minor dibedakan oleh ketidakmampuannya untuk membentuk komponen utama vegetasi yang menyolok, jarang membentuk tegakan murni dan hanya menempati tepian habitat. Antara lain: Acrostichum, Aegiceras, Excoecaria agallocha, Heritiera littoralis, Osbornia octodonta, Pemphis acidula, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Xylocarpus.
3. Mangrove asosiasi adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, yang tidak ditemukan secara eksklusif di hutan mangrove dan hanya merupakan vegetasi transisi ke daratan atau lautan, namun mereka berinteraksi dengan true mangrove. Tumbuhan asosiasi adalah spesies yang berasosiasi dengan hutan pantai atau komunitas pantai dan disebarkan oleh arus laut. Tumbuhan ini tahan terhadap salinitas, seperti Terminalia, Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus, Casuarina, beberapa polong, serta semak Aslepiadaceae dan Apocynaceae. Ke arah tepi laut tumbuh Ipomoea pescaprae, Sesuvium portucalastrum dan Salicornia arthrocnemum mengikat pasir pantai. Spesies seperti Porteresia (Oryza) coarctata toleran terhadap berbagai tingkat salinitas. Ke arah darat terdapat kelapa (Cocos nucifera), sagu (Metroxylon sagu), Dalbergia, Pandanus, Hibiscus tiliaceus dan lain-lain. Komposisi dan struktur vegetasi hutan mangrove beragam, tergantung kondisi geofisik, geografi, geologi, hidrografi, biogeografi, iklim, tanah, dan kondisi lingkungan lainnya.

1. Jenis-Jenis Mangrove
Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizhophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda dan Conocarpus) yang termasuk ke dalam delapan famili. Dengan jumlah jenis tercatat sebanyak 202 jenis yang terdiri atas 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liliana, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas. Namun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan mangrove. Paling tidak didalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati penting/dominan yang termasuk ke dalam empat famili : Rhizophoraceae (Rhizhophora, Bruguiera dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia), Avicenniaceae (Avicennia) dan Meliaceae (Xylocarpus).
Karakteristik Masing-Masing Jenis Mangrove secara umum yakni :
a. Avicennia Alba
Berasal dari famili Avicenniaceae, mempunyai nama daerah api-api dengan nama yang biasa digunakan oleh ahli barat adalah white mangrove. Api-api umumnya tumbuh pada substrat berpasir atau berlumpur tipis dengan salinitas yang relatif tinggi. Pohonnya dapat mencapai tinggi hingga 15 m. Daun pada sisi sebelah atas berwarna hijau muda, sedangkan pada sisi sebelah bawah abu-abu keperakan berbentuk elips dengan panjang daun mencapai 10 cm. Bunga berbentuk kecil berwarna orange dan berdiameter 4-5 mm. Buah berbentuk membulat dan agak berbulu dengan panjang 2-3 cm dan berwarna hijau keabu-abuan. Kulit batang halus berwarna putih keabuan dan akar berbentuk cakar ayam
b. Rhizophore Mucronata
Berasal dari famili Rhizophoraceae, mempunyai nama daerah bakau dengan nama yang biasa digunakan oleh para ahli adalah black mangrove. Bakau merupakan jenis mangrove yang umum dijumpai karena penyebarannya yang luas. Rhizophora mueronata dapat tumbuh sampai setinggi 25 m. Daun lebar dengan panjang 10 cm, berwarna hijau pada bagian atas dan hijau muda pada bagian bawah. Daunnya tersusun dalam rumpun sampai ujung tangkai. Bunga berwarna putih dan berukuran kecil. Buah berbentuk memanjang dengan ukuran mencapai 60 cm meruncing pada bagian ujungnya. Kulit batang berwarna coklat sampai abu-abu gelap, dengan permukaan yang kasar. Akar berbentuk akar tongkat yang keluar dari batang dan memiliki lentisel untuk pernafasan.
c. Sonneratia Alba
Berasal dari famili Sonneratiaceae, mempunyai nama daerah Gogem. Sonneratia alba termasuk jenis mangrove yang sering dijumpai. Dapat tumbuh mencapai 15 m. Daun berbentuk bulat dan berpasangan pada cabangnya dengan panjang mencapai 7 cm. Pada bagian ujung daun agak melengkung ke bawah. Bunga berwarna putih. Buah agak besar dengan lebar 4 cm, berwarna hijau, keras dan dengan bentuk seperti bintang. Kulit batang berwarna abu-abu sampai coklat dan agak retak-retak dan akar berbentuk cakar ayam.
Formasi mangrove merupakan perpaduan antara daratan dan lautan. Mangrove tergantung pada air laut (pasang) dan air tawar sebagai sumber makanannya serta endapan debu (sedimentasi) dari erosi daerah hulu sebagai bahan pendukung substratnya. Air pasang memberi makanan bagi hutan dan air sungai yang kaya mineral memperkaya sedimen dan rawa tempat mangrove tumbuh. Dengan demikian bentuk hutan mangrove dan keberadaannya dirawat oleh kedua pengaruh darat dan laut.
Pembagian zonasi kawasan mangrove yang dipengaruhi adanya perbedaan penggenangan atau perbedaan salinitas meliputi :
1. Zona garis pantai, yaitu kawasan yang berhadapan langsung dengan laut. Lebar zona ini sekitar 10-75 meter dari garis pantai dan biasanya ditemukan jenis Rhizophora stylosa, R. mucronata, Avicennia marina dan Sonneratia alba.
2. Zona tengah, merupakan kawasan yang terletak di belakang zona garis pantai dan memiliki lumpur liat. Biasanya ditemukan jenis Rhizophora apiculata, Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, B. parviflora, B. sexangula, Ceriops tagal, Aegiceras corniculatum, Sonneratia caseolaris dan Lumnitzera littorea.
3. Zona belakang, yaitu kawasan yang berbatasan dengan hutan darat. Jenis tumbuhan yang biasanya muncul antara lain Achantus ebracteatus, A. ilicifolius, Acrostichum aureum, A. speciosum. Jenis mangrove yang tumbuh adalah Heritiera littolaris, Xylocarpus granatum, Excoecaria agalocha, Nypa fruticans, Derris trifolia, Osbornea octodonta dan beberapa jenis tumbuhan yang biasa berasosiasi dengan mangrove antara lain Baringtonia asiatica, Cerbera manghas, Hibiscus tiliaceus, Ipomea pes-caprae, Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Pongamia pinnata, Scaevola taccada dan Thespesia populnea.
Distribusi mangrove yaitu dimana mangrove diperkirakan berasal dari Indonesia-Malaysia, kawasan pusat biodiversitas mangrove dunia. Spesies ini terbawa arus laut ke seluruh pantai daerah tropis dan subtropis dunia, pada garis lintang 25o LU dan 25o LS, karena propagulnya dapat mengapung. Dari kawasan Indonesia-Malaysia, mangrove tersebar ke barat hingga India dan Afrika Timur, serta ke timur hingga Amerika dan Afrika Barat. Penyebaran mangrove dari pantai barat Amerika ke laut Karibia, terjadi pada jaman Cretaceous atas dan Miocene bawah, antara 66-23 juta tahun yang lalu, melewati selat yang kini menjadi tanah genting negara Panama. Penyebaran ke timur diikuti penyebaran ke utara hingga Jepang dan ke selatan hingga Selandia Baru. Sehingga sebagai perkecualian, mangrove ditemukan di Selandia Baru (38o LS) dan Jepang (32o LU). Cara dispersal propagul di atas menyebabkan mangrove di Amerika dan Afrika Barat (Atlantik) memiliki luas dan keragaman lebih rendah, karena harus melewati Samudera Pasifik, sedangkan mangrove di Asia, India, dan Afrika Timur memiliki keragaman lebih tinggi. Sehingga mangrove di dunia terbagi menjadi dua kawasan utama, yaitu Indonesia-Pasifik Barat yang meliputi Asia, India dan Afrika Timur, serta Amerika – Afrika Barat. Mangrove dari kawasan Indonesia-Pasifik Barat sangat terkenal dan beragam, terdiri lebih dari 40 spesies, sedangkan di Atlantik hanya sekitar 12 spesies.
Ada kira-kira 70 species mangrove sejati (komponen mayor dan minor). Empat puluh spesies dapat ditemukan di Asia Tenggara (15 spesies terdapat di Africa dan 10 spesies terdapat di America). Menurut Soemodihardjo (1993), ada 15 famili, 18 genus dan 41 spesies dari true mangrove dan 116 rekanan mangrove di Indonesia. Jumlah mangrove di Indonesia menurun sangat cepat karena dipengaruhi oleh pengunaan lahan dan sumberdaya yang berlebihan yang diakibatkan oleh peningkatan populasi di kawasan pantai.
Karakteristik morfologi yang menarik dari species mangrove dapat dilihat dari sistem perakarannya dan buah. Tanah pada habitat mangrove adalah anaerobik (hampa udara) bila berada di bawah air. Beberapa species memiliki sistem perakaran khusus yang disebut akar udara yang cocok untuk kondisi tanah yang anaerobik. Ada beberapa tipe perakaran yaitu: akar tunjang, akar napas, akar lutut, dan akar papan baner. Semua species mangrove memproduksi buah yang biasanya disebarkan melalui air. Ada beberapa macam bentuk buah, seperti berbentuk silinder, bulat dan berbentuk kacang.
1. Benih Vivipari Umumnya terdapat pada family Rhizophoraceae, buahnya berbentuk silinder.
2. Benih Cryplovivipari Umumnya terdapat pada family Avicennia (Seperti buah kacang), Aegeceras (Sikunder) dan Nypa fruticans, yang buahnya berbentuk Cryplovivipoarious dimana bibitnya berkecambah tetapi diliputi oleh selaput buah sebelum dilepaskan atau ditinggalkan dari pohon induknya
3. Benih Normal Ditemukan pada species Sonneratia dan Xylocarpus. Buahnya berbentuk bulat seperti bola dengan benih normal. Species lain kebanyakan buahnya berbentuk kapsul. Sebagai benih normal, buah tersebut mengalami proses dimana mereka memecahkan diri dan menyebarkan benihnya pada saat mencapai air.
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.(Wikipedia, 2011)
Reproduksi tumbuhan mangrove terjadi secara seksual, yakni dengan adanya bunga berkelamin satu maupun poligami, sehingga memerlukan serangga, burung atau angin untuk membantu penyerbukan. Dalam kondisi habitat yang berat seperti diterangkan di atas, sangat sulit bagi tumbuhan mangrove untuk berkembangbiak sebagaimana tumbuhan darat biasa. Suatu penyesuaian perkembangbiakannya adalah yang disebut viviparitas (viviparity), yakni bahwa bijinya tumbuh menjadi tumbuhan muda selagi masih melekat pada tumbuhan induknya. Saat lepas dari induknya ia akan menancap pada substrat dengan hipokotil (hypocotyl) yang seperti paku tajam. Adaptasi semacam ini terdapat pada kebanyakan jenis mangrove seperti Rhizophora sp., Bruguiera sp., Ceriops sp., dll. (Romimohtarto, 2001).
Mangrove memiliki beberapa adaptasi dalam menghadapi kondisi lingkungan yang ekstrim. Daerah intertidal yang memiliki fluktuasi suhu, salinitas dan pasang surut yang berubah-ubah pada periode berbeda membuat adaptasi mangrove lebih kuat terhadap perubahan lingkungan tersebut.
Suplai oksigen ke akar sangat penting bagi pertumbuhan dan penyerapan nutrien. Karena tanah mangrove seringkali anaerob, maka beberapa tumbuhan mangrove membentuk struktur khusus pneumatofora (akar napas). Menurut Kustanti (2011), untuk mengatasi kadar garam oksigen yang rendah mangrove memiliki perakaran yang khas. Akarnya yang berbentuk seperti cakar ayam, pasak, tunjang dan banir adalah cara untuk mengambil oksigen dari udara yang mempunyai lentisel.
Bentuk-bentuk akar tersebut merupakan hasil proses adaptasi pohon terhadap lingkungannya sehingga hubungan antara akar dan udara tetap terlaksana dengan baik dan fungsi akar sebagai organ pengambil zat-zat makanan dari dalam tanah tetap berlangsung. Namun, menurut Arief (2003) bahwa dengan melakukan usaha adaptasi menggunakan bentuk-bentuk perakaran, tidak semua jenis mampu hidup dan berkembang untuk seterusnya, khususnya bagi anakan-anakan yang hidup di bawah induk atau yang tersebar jauh dari induknya.
Terhadap kadar garam tinggi, mangrove memiliki sel-sel khusus pada daunnya yang berfungsi untuk menyimpan garam, berdaun tebal dan kuat untuk mengatur keseimbangan garam. Daun yang memiliki stomata khusus untuk mengurangi penguapan. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa jenis yang membentuk kristal garam halus pada permukaan daunnya (Tomlinson, 1986).
Komunitas mangrove memiliki rentang toleransi yang luas terhadap garam, mulai dari halofit sejati yang sangat tahan hingga glikofit yang sangat rentan. Salinitas dipengaruhi oleh aliran pasang surut dan musim (Goldman dan Horne, 1983) dalam (Setyawan 2002). Pertumbuhan mangrove dipengaruhi oleh salinitas sedimen dan dibatasi oleh sifat hipersalinnya, namun demikian mangrove mendiami daerah pantai dengan kisaran salinitas yang besar. Menurut Giesen et al. (2007), beberapa jenis mangrove memiliki toleransi yang besar seperti Sonneratia caseolaris, dapat ditemukan di daerah yang masih terkena pasang surut dengan salinitas hampir sama dengan air tawar.
Selain itu, mangrove memiliki batas toleransi terhadap pasang surut. Di Asia Tenggara, daerah yang digenangi pada waktu pasang tertinggi didominasi oleh Avicennia alba, Avicennia marina atau Sonneratia alba, sedangkan daerah yang hanya digenangi sebagian air pasang tertinggi didominasi oleh jenis Rhizophora. Mangrove yang digenangi air pasang normal didominasi spesies Bruguiera, Xylocarpus granatum (Giesen et al. 2007).
Pertumbuhan mangrove juga dipengaruhi oleh tipe substrat. Tipe substrat seperti liat berdebu juga faktor penunjang terjadinya proses regenerasi. Partikel debu dan partikel liat yang berupa lumpur menangkap buah mangrove yang jatuh karena sudah masak (Arief, 2003).
Ruang lingkup sumberdaya mangrove secara keseluruhan terdiri atas: (1) satu atau lebih spesies tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat mangrove, (2) spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove, (3) biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove, (4) proses-proses alamiah yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya, dan (5) daratan terbuka/hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut.
Mangrove merupakan kelompok tumbuhan yang memeiliki banyak jenis sehingga mengrove dapat diartikan sebagai kelompok tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis dari suku yang berbeda-beda namun memiliki kesamaan adaptasi morfologi dan fisiologi.
Fungsi ekosistem mangrove :
Secara ekologi yaitu antara lain sebagai berikut:
 Sebagai daerah mencari makan, daerah asuhan, dan sebagai daerah perlindungan bagi beragam biota perairan.
 Sistem perakarannya yang ekstensif mampu menahan sedimen dan lumpur sehingga mampu mencegah terjadinya pendangkalan pada suatu perairan, dan membantu mengendapkan partikel-partikel tersuspensi sehingga kualitas perairan tetap terpelihara.
 Menjadi ekosistem penyangga, bagi dua ekosistem utama wilayah pesisir lainnya yaitu ekosistem lamun dan ekosistem karang
Menghasilkan sejumlah besar zat hara terlarut yang berasal dari daun, kulit, batang, buah, dan ranting mangrove serta sebagai pemasok larva ikan, udang dan biota lainnya
 Menahan abrasi, amukan angin, topan, dan gelombang tsunami serta mampu menyerap limbah dan mencegah instrusi air laut kedalam air tanah sehingga kamunitas masyarakat pesisir dapat terhindar dari akibat buruk peristiwa tersebut.
Secara ekonomi, mangrove berperan sebagai berikut:
1. Bahan bakar
2. Bahan dasar konstruksi
3. Perlengkapan penangkapan ikan dan perlengkapan rumah tangga
4. Bahan dasar tekstil dan kertas
5. Makanan, minuman dan obat-obatan
2. Karakteristik ekosistem mangrove
a. Tanah
Tanah dalam pengertian habitat Pada ekosistem mangrove adalah lingkungan baur yang dibentuk oleh pertemuan antara lingkungan marin dengan darat, dikenal juga sebagai rawa garaman, rawa payau, intertidal zone, intertidal flat. Jenis tanah yang berada di bawahnya termasuk tanah perkembangan muda (saline young soil) yang mempunyai kandungan liat yang tinggi dengan nilai kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation yang tinggi. Kandungan bahan organik, total nitrogen, dan ammonium termasuk kategori sedang pada bagian yang dekat laut dan tinggi pada bagian arah daratan. Bersifat dinamis karena hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang terus serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh alaminya. Dikatakan labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali seperti sediakala.
Secara alami hutan mangrove membentuk suatu zonasi, daerah yang dekat dengan laut dan substrat agak berpasir sering ditumbuhi oleh Avicennia sp. Pada zona ini berasosiasi sonneration sp. Yang dominan tumbuhan pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. Kemudian kearah darat diikuti oleh zona Rhizopora sp. , Bruguiera sp. Dan Xylocarpus sp. Zona berikutnya didominasi oleh Burguiera sp. Zona terakhir dari hutan mangrove di dominasi oleh nyipa fruticans dan beberapa spesies palem, zona ini juga merupakan zona teransisi ke hutan dataran rendah.

Gambar zonasi pada mangrove
Untuk tempat habitatnya setiap jenis mangrove secara umum yaitu :
1. Tipe api-api(Avicennia sp)
Paling dekat dengan air laut, merupakan mangrove parintis. Substratnya berlumpur, kadang-kadang berpasir dan kaya akan bahan organic. Contoh bakau jenis ini adalah Avicennia marina dan Avecennia officinellis.
2. Tipe bakau (Rhizopora sp)
Hidup didekat pantai atau di belakang Avicennia, substrat berlumpur tetapi warnanya lebih pekat dan kaya akan humus, kadang lumpur berpasir. Jenis yang paling bisa hidup di dekat laut adalah bakau gandul (Rhizopora mucronata). Jenis lain yang masih termasuk dalam kerabat Rhizopora antara lain Ceriops, Bruguiera, dan Acanthus.
3. Tipe kandeka (Bruguiera sp)
Lingkungan hidupnya berada di belakang dari tumbuhan bakau jenis Ceriops, mampu tumbuh dengan umur yang panjang dan lebih bisa beradaptasi dengan wilayah darat, substrat berlumpur tetapi tidak begitu dipengaruhi oleh factor pasang surut.
4. Tipe nipah (Nypa fruticans)
Bakau jenis ini sudah mampu untuk tumbuh di tanah lunak berlumpur, merupakan tipe peralihan dari laut ke darat dan dapat cepat beradaptasi dengan kondisi salinitas tinggi atau pada daerah genangan air tawar. Contoh tumbuhan ini adalah Sonneratia alba.
5. Tipe hutan bakau air tawar
Hanya dipengaruhi oleh air musim di mana pada musim barat daerah ini tergenang oleh air. Sedangkan pada musim timur kering. Bakau jenis ini tidak dipengaruhi oleh pasang surut. Substratnya berupa tanah keras. Contoh tumbuhan ini adalah Callophyllum sp, Hibiscus sp, dan Terminalia sp.
b. Salinitas
Bagi kebanyakan pohon-pohon mangrove dan fauna penggali liang dalam tanah, salinitas air pasang mungkin kurang penting dibandingkan dengan salinitas air tanah. Salinitas air tanah umumnya lebih rendah dibandingka dengan air pasang diatasnya, hal ini disebabkan karena terjadinya pengenceran oleh air tawar (hujan) yang merembes ke dalam tanah. Bagi akar-akar pohon dan fauna penggali lubang, faktor terpenting bukan hanya kadar NaCl tetapi tekanan osmotik. Salinitas bervariasi dari hari ke hari dan dari musim ke musim. Selama siang hari salinitas lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan. Demikian pula pada musim pasang, salinitas akan turun dan cenderung untuk naik bila surut kembali.
Hutan mangrove biasanya dikenal sebagai hutan panti, hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau. Mangrove biasa juga disebut sebagai farmasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung. Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh terutama pada tanah lumpur alluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Pada pantai yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut yang kuat, mangrove sulit atau tidak dapat tumbuh, karena kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur sebagai substrat yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Hutan mangrove juga merupakan hutan khas tropis yang penyebarannya dibatasi pada letak lintang, karena vegetasi ini sangat sensitive terhadap suhu dingin.
Vegetasi mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti kondisi tanah yang kurang stabil daya adaptasi tersebut meliputi :
a. Perakaran yang pendek dan menyebar luas, dengan akar penyangga atau tundung akar yang tumbuh dari batang dan dahan sehingga menjamin kokohnya batang
b. Memiliki daun yang kuat dan mengandung banyak air
c. Mempunyai jaringan internal menyimpan air dengan kosentrasi garam yang tinggi, beberapa jenis mangrove mempunyai kelenjar garam yang menolong menjaga keseimbangan osmotik dengan mengeluarkan garam
d. Adanya sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya
e. Beberapa jenis berkembang biak dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih dipohon induknya (viviper).
Kelestarian hutan mangrove dipengaruhi oleh 3 parameter lingkungan utama, yaitu 1) suplai air tawar dan salinitas, 2) pasokan nutrient, dan 3) stabilitas substrat. Meskipun mangrove mampu beradaptasi pada kondisi salinitas yang ekstrim namun suplai air tawar tetap diperlukan untuk mengendalikan efisiensi metabolik dari ekosistem hutan mangrove. Pasokan nutrien bagi daerah mangrove ditentukan oleh berbagai proses yang saling terkait, meliputi : imput dari ion-ion mineral anorganik dan bahan organik serta pendaur ulangan nutrient secara internal melalui rantai dan jaringan makanan berbasis detritus. Stabilitas substrat memiliki arti penting bagi spesies hutan mangrove untuk menahan akibat yang menimpa ekosistemnya.
3. Jenis-Jenis Biota yang Berasosiasi dengan Hutan Mangrove
Organisme yang hidup pada hutan mangrove dibedakan menjadi kelompok Mikroorganisme dan Makroorganisme.
 Mikroorganisme, Bakteri yang hidup pada substrak dasar di hutan mangrove berperan dalam proses perubahan senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Proses ini dinamakan proses mineralisasi.
 Hewan darat yang berasosiasi dengan hutan mangrove seperti burung, kera berekor panjang ( Macaca fascicularis), ular, buaya, dan biawak.
 Hewan Laut
Hewan laut yang hidup dihutan mangrove dapat digolongkan menjdai 3 (tiga) golongan yaitu:
1. Golongan hewan yang hidup pada substrak keras (pada akar-akar bakau dan didaun bakau) seperti tiram (Crassostrea cucullata), siput ( Littoraria sp), keong (Cassidulu sp).

2. Golongan hewan yang hidup didalam lumpur seperti Polymesoda expansa ( bahasa daerahnya kalandue atau kaboii), Telescopium sp (bahasa daerahnya burungo

3. Golongan hewan yang hidup merayap dan juga meliang seperti ikan glodok (Periophthalmus sp), kepiting Varuna yui, kepiting Uca sp, dan udang (Alpheis sp.) yang pada waktu surut air surut, udang ini terdengar mengeluarkan suara seperti letusan pistol sehingga disebut udang peletok.

4. Faktor-faktor lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mangrove
a. Salinitas
Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya, sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya.
b. Tanah
Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur, terutama di daerah endapan lumpur terakumulasi. Di Indonesia substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata dan Avicennia marina (Kint, 1934). Jenis tanah yang mendominasi kawasan mangrove biasanya adalah fraksi lempeng berdebu, akibat rapatnya bentuk perakaran-perakaran yang ada. Fraksi lempung berpasir hanya terdapat dibagian depan (arah pantai). Nilai pH tanah dikawasan mangrove berbeda-beda, tergantung pada tingkat kerapatan vegetasi yang tumbuh dikawasan tersebut. Jika kerapatan rendah, tanah akan mempunyai nilai pH yang tinggi. Nilai pH tidak banyak berbeda, yaitu antara 4,6-6,5 dibawah tegakan jenis Rhizophora sp. Hutan mangrove tanahnya selalu basah, mengandung garam, mempunyai sedikit oksigen dan kaya akan bahan organik. Bahan organik yang terdapat di dalam tanah, terutama berasal dari sisa tumbuhan yang diproduksi oleh mangrove sendiri. Serasah secara lambat akan diuraikan oleh mikroorgansme, seperti bakteri, jamur dan lainnya. Selain itu juga terjadi sedimen halus dan partikel kasar, seperti potongan batu dan oral, pecahan kulit kerang dan siput. Biasanya tanah mangrove kurang membentuk lumpur berlempung dan warnanya bervariasi dari abu-abu muda sampai hitam
c. Cahaya
Cahaya adalah salah satu faktor yang penting dalam proses fotosintesis dalam melakukan pertumbuhan tumbuhan hijau. Cahaya mempengaruhi respirasi, transpirasi, fisiologi dan juga sruktur fisik tumbuhan. Intensitas cahaya, di dalam kualitas dan juga lama penyinaran juga merupakan satu faktor penting untuk tumbuhan. Umumnya tumbuhan di ekosistem mangrove juga membutuhkan intensitas tinggi.
d. Suhu
Pada Rhizophora sp., Ceriops sp., Exocoecaria sp. dan Lumnitzera sp., laju tertinggi produksi daun baru adalah pada suhu 26-28 ºC, untuk Bruguiera sp adalah 27ºC dan Avicennia marina memproduksi daun baru pada suhu 18-20 ºC.
e. Pasang Surut
Pasang surut menetukan zonasi komunitas flora dan fauna mangrove. Durasi pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas pada areal mangrove. Salinitas air menjadi sangat tinggi pada saat pasang naik dan menurun selama pasang surut. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor yang membatasi distribusi jenis mangrove. Pada areal yang selalu tergenang hanya Rhizophora mucronata yang tumbuh baik, sedangkan Bruguiera spp dan Xylocarpus sp. jarang mendominasi daerah yang sering tergenang. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa antara air tawar dengan air laut, dan oleh karenanya mempengaruhi organisme mangrove.
5. Penyebab Berkurangnya Jumlah Mangrove Di Pesisir Pantai
1. Faktor alam
Keadaan alam sangat mempengaruhi pertumbuhan Mangrove adapun faktor alam yang mempengaruhinya yaitu :
a. Abrasi
Abrasi pada dasarnya merupakan gangguan alam yang dapat merusak sistem tanah pada perakaran tumbuhan mangrove yang pada akhirnya menjadikan pengikatan akar tumbuhan mangrove yang tidak kokoh terhadap tanah yang ditempatinya, dan pada akhirnya tumbuhan mangrove tersebut menjadi rebah.
b. Angin
Angin merupakan gangguan alam yang dapat mematahkan sebagian batang dan ranting timbuhan mangrove bahkan mampu merobohkan tumbuhan mangrove. Namun pengaruh angin terhadap petumbuhan mangrove masih tergolong kecil terhadap perkembangannya, karena angin ini tidak selamanya angin kencang.
c. Kelembaban
Kelembaban juga berpengaruh terhadap pertumbuhan mangrove, dimana suatu tumbuhan memiliki batas kemampuan tumbuh terhap kondisi kelembaban yang ada, dimana tumbuhan hanya mampu tumbuh pada kelembaban yang optimum, artinya bahwa ketika kelembaban ekstrim maka tumbuhan perlahan-lahan akan mati.

2. Faktor manusia
Kerusakan lingkungan dipesisir pantai karena campur tangan manusia antara lain pembangunan pemukiman, pertamabakan(pengelolaan empang) yang berlebihan, pembuangan sampah dipesisir pantai.
6. Dampak Kerusakan Hutan Mangrove Terhadap Kawasan Pesisir Pantai
a. Segi Ekologis
Kurangnya populasi bakau (Rhizophora sp.) di kawasan tersebut sangatlah berpengaruh terhadap ekosistem pesisir pantai, sebab bakau merupakan komponen biotik utama pada ekosistem pesisir pantai atau semi daratan. Dampak lain yang di timbulkan dari kerusakan bakau (Rhizophora sp.) tersebut adalah pengikisan batuan yang menjadi bahan timbunan perumahan warga, sehingga berpotensi untuk menimbulkan abrasi.
Gambar keberadaan tumbuhan Mangrove di pesisir

b. Segi Ekonomis
Kurangnya populasi bakau dan rusaknya sebagian bakau yang baru ditanam menyebabkan kerapatan biota laut di kawasan tersebut semakin berkurang. Berkurangnya kerapatan biota laut akibat rusaknya ekosistem bakau memberikan pengaruh besar terhadap aktifitas warga mencari ikan dan biota laut lainnya disekitar pesisir pantai sehingga mereka mencari ikan dilokasi yang sangat jauh dari pesisir.
7. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan Mangrove di Kawasan Pesisir Pantai
a. Pendidikan dan Penyuluhan
Pendidikan melalui lembaga formal dapat dilakukan dengan membuat muatan lokal tentang hutan mangrove salah satunya yaitu bakau (Rhizophora sp.) yang sesuai dengan potensi daerah, utamanya sekolah-sekolah di wilayah pesisir.
b. Administratif
Upaya ini dilakukan oleh pemerintah dengan cara mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam bentuk Perda untuk mencegah kerusakan mangrove dan memberikan sanksi tegas terhadap oknum-oknum yang merusak ekosistem mangrove. Upaya ini dilakukan sebagai kepedulian pemerintah terhadap lingkungan karena pemerintah juga harus menjaga wilayah pesisir pantai.
c. Konservasi
Upaya ini dilakukan dengan cara menetapkan wilayah pesisir sebagai kawasan konservasi. Perlindungan bagi kawasan ini diupayakan untuk mengembalikan ekosistem Mangrove pada kondisi alami menuju ekosistem yang seimbang. Cara ini juga dapat dilakukan dengan mengadakan reboisasi pada wilayah yang mengalami kerusakan. Untuk mempercepat rehabilitasi, pemerintah harus secara tegas menetapkan batas wilayah yang menjadi lahan konservasi, agar wilayah ini di isolasi dari kegiatan manusia. Untuk melaksanakn upaya ini, pemerintah dapat melakukan transmigrasi lokal bagi masyarakat yang bermukim di tempat tersebut pada wilayah daratan sehingga masyarakat masih bisa mencari nafkah di laut.
B. Morfologi dan Jenis-Jenis Lamun
Bentuk vegetatif lamun memperlihatkan karakter tingkat keseragaman yang tinggi. Hampir semua genera memiliki rhizoma yang sudah berkembang dengan baik dan bentuk daun yang memanjang (linear) atau berbentuk sangat panjang seperti ikat pinggang (belt), kecuali jenis Halophila memiliki bentuk lonjong. Berbagai bentuk pertumbuhan tersebut mempunyai kaitan dengan perbedaan ekologik lamun (den Hartog, 1977). Misalnya Parvozosterid dan Halophilid dapat dijumpai pada hampir semua habitat, mulai dari pasir yang kasar sampai limpur yang lunak, mulai dari daerah dangkal sampai dalam, mulai dari laut terbuka sampai estuari. Magnosterid dapat dijumpai pada berbagai substrat,tetapi terbatas pada daerah sublitoral sampai batas rata-rata daerah surut. Secara umum lamun memiliki bentuk luar yang sama, dan yang membedakan antar spesies adalah keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif. Menjadi tumbuhan yang memiliki pembuluh, lamun juga memiliki struktur dan fungsi yang sam adengan tumbuhan darat yaitu rumput. Berbeda dengan rumput laut (marinealga/seaweeds), lamun memiliki akar sejati, daun, pembuluh internal yangmerupakan sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.
Padang lamun merupakan salah satu komunitas yang paling produktif, selain hutan mengrove dan terumbu karang pada perairan pesisir pantai. Sejak tahun 1950-an, daerah yang tertutup oleh padang zosterasa marina telah merosot akibat popolasi, reklamasi dan urbanisasi disekeliling pantai (komatus, 1996). Laporan ynag sama telah dipublikasikan oleh short. et al ( 1996) bahwa peningkatan input antropogenik ke zona pesisir pantai ada kaitannya dengan kehilangan pandangan lamun. Jika ditinjau dari fungsi ekologisnya, padang lamun dapat berperan sebagai stabilisator sedimen karena mampu melindungi terumbu karang dari sedimentasi dengan ciri khas akar rizomanya. Padang lamun juga dapat berperan sebagai filtrasi air serta pendukung utama kehidupan perikanan dan unggas air dipesisir pantai. Padang lamun mampu mengambil nutrien melalui daun serta sistem akarnya, dan pada umumnya di daerah tropis kosentrasi nutrien terlalu dalam air laut agak rendah (sering dibawah batas yang dapat di deteksi), sementara kosentrasi air poros dalam sedimen biasanya sangat tinggi. Pengambilan nutrien dari kolom air oleh daun lamun dapat dianggap tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan pengambilan nuterien oleh akar dari sedimen.
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti banyak tumbuhan darat. Dan klasifikasi lamun adalah berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda sehingga pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi.
Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut.
Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut. Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Lamun juga memiliki karakteristik tidak memiliki stomata, mempertahankan kutikel yang tipis, perkembangan shrizogenous pada sistem lakunar dan keberadaan diafragma pada sistem lakunar. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air.
Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal. Lamun didefinisikan sebagai tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Lamun juga mengikuti irama musim. Saat-saat bersemi, berbunga dan berbuah terjadi pada bulan-bulan tertentu. Tidak banyak informasi yang didapat tentang waktu berbunga, berbuah dan sebaran biji. Lamun tropika mulai berbunga pada akhir april dan berlanjut sampai akhir agustus di Filipina. Proses ini berhubungan langsung dengan perkembangan panjang siang, suhu dan curah hujan. Sebaliknya pertumbuhan, biomassa dan produksi berhubungan terbaik dengan perkembangan faktor-faktor di atas. Saat berbuah terjadi pada setengah masa terakhir dari masa berbunga dengan puncaknya terjadi pada bulan juli, saat panjang siang dan curah hujan mencapai harga tertinggi. Oleh karena lamun ini tumbuh di bawah air, bunganya dipolinasi didalam air melalui bantuan arus. Serbuk sari seperti benang terdapat padat didekat air dan karenanya mudah terangkut air. Lamun tumbuh bertahun-tahun,rimpangnya tumbuh memanjang dan membentuk pasangan-pasangan daun dan akar baru. Sistem Reproduksi lamun sebenarnya dapat dilakukan secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dengan membentuk stolon, secara seksual dengan hidrophilus. Dalam sistem reproduksinya, lamun beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut termasuk juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air. Dengan melakukan polinasi berati lamun adalah tumbuhan yang memiliki bunga, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti banyak tumbuhan darat. Lamun memiliki dua bentuk pembungaan, yakni monoecious (dimana bunga jantan dan betina berada pada satu individu) dan dioecious (dimana jantan dan betina berada pada individu yang berbeda). Peyerbukan terjadi melalui media air (penyerbukan hydrophyllous). Meskipun lamun adalah tanaman berbunga dan menghasilkan biji melalui reproduksi seksual, modus utama adalah reproduksi aseksual, melalui perpanjangan dari bagian bawah tanah, berupa rhizome.
Zonasi lamun secara vertikal sebagai berikut:
1. Zona intertidal, dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia.
2. Zona intertidal bawah, didominasi oleh Thalassodendron ciliatum.
Komunitas lamun biasanya ada dalam area yang luas dan rapat. Secara umum komunitas lamun dibagi menjadi 3 asosiasi spesies sehingga membentuk suatu zonasi lamun (Brouns dan Heijs, 1991), yaitu:
1. Padang lamun monospesifik (monospesifik seagrass beds). Hanya terdiri dari 1 spesies saja. Akan tetapi keberadaannya hanya bersifat temporal dan biasanya terjadi pada phase pertengahan sebelum menjadi komunitas yang stabil (padang lamun campuran).
2. Asosiasi 2 atau 3 spesies ini merupakan komunitas lamun yang terdiri dari 2 sampai 3 spesies saja. Dan lebih sering dijumpai dibandingkan padang lamun monospesifik.
3. Padang lamun campuran (mixed seagrass beds). Padang lamun campuran umumnya terdiri dari sedikitnya 4 dari 7 spesies berikut: Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii. Tetapi padang lamun campuran ini, dalam kerangka struktur komunitasnya, selalu terdapat asosiasi spesies Enhalus acoroides dengan Thalassia hemprichii (sebagai spesies lamun yang dominan), dengan kemelimpahan lebih dibanding spesies lamun yang lain.
1. Karakteristik Fisika dan Kimia Pada Lamun
a. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap ekosistem lamun. Suhu juga menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan distribusi lamun. Perubahan suhu mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup. Pada kisaran suhu 25 – 30°C fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, kisaran 5 – 35°C. produktivitas lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, pada kisaran suhu 10 – 35 °C
lamun dan organisme lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Serasah daun lamun ini merupakan sumber bahan organik yang penting bagi perairan tropis yang dikenal miskin akan unsur hara. Kematian massal dari daun lamun, yang berguguran atau lepas saat surut terendah, akan memicu lamun untuk segera menumbuhkan daun yang baru. Dengan demikian, suhu berperan penting dalam regenerasi lamun. Suhu memiliki pengaruh yang besar terhadap komunitas makrozoobentos saat surut rendah. Paparan cahaya matahari di permukaan substrat yang terekspose akan meningkatkan suhu lingkungan. Hewan bentos (epifauna) seperti bulu babi
akan bereaksi mencari perlindungan dengan bergerak menuju kolam-kolam kecil yang masih terisi air atau bersembunyi di balik bongkahan batu karang. Jenis bulu babi Tripneustes gratilla akan membungkus permukaan tubuhnya yang berduri pendek dengan serasah dan daun lamun. Jenis kerang akan menutup cangkangnya lebih rapat. Spesies infauna akan membenamkan diri lebih dalam di bawah permukaan substrat.
b. Salinitas
Lamun diketahui memiliki kisaran toleransi yang besar terhadap salinitas. Perubahan gradien salinitas umumnya terjadi di daerah estuaria atau muara sungai yang menjadi tempat bertemunya air tawar dengan air laut. Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 permill . Salinitas berpengaruh terhadap produktivitas, kerapatan, dan lebar daun. Untuk makrozoobentos, salinitas yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi tekanan osmosis dalam sel dan menghambat proses fisiologis.
c. Kekeruhan
Kekeruhan mempengaruhi kehidupan lamun karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan untuk berfotosintesis. Kekeruhan disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi. Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas.
d. Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal hingga mencapai kedalaman 30 m. kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun.
e. Nutrien
Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun. Penyerapan nutrien dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun.
f. Substrat
Lamun hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan batu karang. Tipe substrat juga mempengaruhi standing crop lamun. Selain itu rasio biomassa di atas dan dibawah substrat sangat bervariasi antar jenis substrat.
2. Jenis-jenis Lamun dan penyebarannya di Indonesia
Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili: (1) Hydrocharitaceae, dan (2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan Thallassodendron ciliatum. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang juga cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam biota laut (Gambar 17), seperti ikan, krustasea, moluska (Pinna sp., Lambis sp., Strombus sp.), Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Archaster sp., Linckia sp.), dan cacing Polikaeta.
Lamun termasuk dalam subkelas Monocotyledonae dan merupakan tumbuhan berbunga (kelas Angiospermae). Secara lengkap klasifikasi beberapa jenis lamun menurut (Phillips dan Menez,1988) adalah sebagai berikut :
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Potamogetonacea
Subfamili : Zosteroideae
Genus : Zostera , Phyllospadix, Heterozostera
Subfamili : Posidonioideae
Genus : Posidonia
Subfamili : Cymodoceoideae
Genus : Halodule, Cymodoceae, Syringodium, Amphibolis, Thalassodendron
Famili : Hydrocharitaceae
Subfamili : Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus
Subfamili : Thalassioideae
Genus : Thalassia
Subfamili : Halophiloideae
Genus : Halophila

Gambar jenis-jenis Lamun di Indonesia
Cymodocea rotundata
Local: Settu
English: Round tippes seagrass
Salah satu spesies dominan di mintakat intertidal; salah satu spesies pionir;
diketahui sebagai makanan duyung di Kawasan Timur Indonesia
Cymodocea serrulata
Local: Settu
English: Toothed seagrass
Enhalus acoroides
Local: Settu pita
English: Tropical eelgrass
Halophila decipiens
Local: Settu kelor
English: Veinless spoon-grass
Halophila minor
Local: Settu
English: Small spoon-grass
Halophila ovalis
Local: Settu kelor
English: Spoon-grass
Halodule pinifolia
Local: Settu kawat
English: Fiber-strand seagrass
Halophila spinulosa
Local: Settu pakis
English: Curled-base spoon-grass
Halodule uninervis
Local: Settu kawat
English: Fiber-strand seagrass
Syringodium isoetifolium
Local: Settu
English: Syringe grass
Thalassodendron ciliatum
Local: Settu kipas
English: Woody seagrass
Thalassia hemprichii
Local: Settu
English: Dugong grass

Tumbuhan lamun terdiri dari akar rhizome dan daun. Rhizome merupakan batang yang terpendam dan merayap secara mendatar dan berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas, berdaun dan berbunga. Pada buku tumbuh pula akar (Nontji,1993). Lamun memiliki daun-daun tipis yang memanjang seperti pita yang mempunyai saluran-saluran air (Nybakken, 1992). Bentuk daun seperti ini dapat memaksimalkan difusi gas dan nutrien antara daun dan air, juga memaksimalkan proses fotosintesis di permukaan daun (Philips dan Menez, 1988)
Daun menyerap hara langsung dari periran sekitarnya, mempunyai rongga untuk mengapung agar dapat berdiri tegak di air, tapi tidak banyak mengandung serat seperti tumbuhan rumput di darat (Hutomo,1997). Sebagian besar lamun berumah dua,artinya dalam satu tumbuhan hanya ada jantan saja atau betina saja. Sistem pembiakannya bersifat khas karena melalui penyerbukan dalam air.
Padang lamun dapat ditemukan di sebagian besar perairan pulau dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Secara ekologis ekosistem lamun di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu merupakan habitat, tempat mencari makan dan berkembang biak berbagai jenis ikan, udang, teripang, cumi-cumi serta biota laut lainnya. Di perairan sebelah barat Pulau Kaliage Kecil dijumpai jenis cumi-cumi meletakkan telur-telurnya di daun-daun lamun sampai menetas padang lamun di sebelah barat. Di samping itu, keberadaan padang lamun di TNKPS dapat menstabilkan substrat dasar, daun-daun lamun akan menangkap sedimen dan mengendapkannya ke dasar sehingga perairan menjadi jernih. Padang lamun dapat ditemukan di sebagian besar perairan pulau dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa dan Pulau Harapan.

3. Karakteristik Lamun di Indonesia
Lamun (seagrass) meru¬pakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air, beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya mem¬bentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi per¬tumbuhan¬nya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta meng¬angkut hasil metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem). Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di terumbu karang.
Tumbuhan lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas Alismatidae sukunya Hydroecharitaceae dengan contoh jenis Syringodium isoetifolium tumbuhan ini mempunyai beberapa sifat yang memungkinkan hidup di lingkungan laut yaitu:
1. Mampu hidup di media air asin
2. Mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam
3. Mempunyai system perakaran jangkar yang kuat dan kokoh
4. Mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam keadaan terbenam
5. Daunnya mengandung banyak udara agar mudah mengapung di bawah permukaan air laut.
6. Dalam satu tumbuhan hanya ada bunga jantan saja atau bunga betina saja.
7. Buahnya terendam dalam air.
Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya seperti makro alga atau rumput laut (sea weeds). Deskripsi dari jenis-jenis Lamun yang ada di Indonesia dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
4. Padang Lamun Untuk Fauna Yang Berassosiasi
Beberapa avertebrata yang hidup di laut memakan daun lamun. Beberapa anggota dari Aplysidae dan bulu babi diketahui aktif memakan lamun, tetapi makanan utamanya bukan daun yang hijau (segar) tetapi algae yang berassosiasi dengan lamun. Contoh, dua jenis dari bulu babi, Paracentrotus lividus dan Arabica lixula yang umum hidup di padang Posidonia, Mediterranian, merayap kebagian atas daun lamun pada malam hari untuk memakan epifit makroalgae yang hidup pada bagian atas dari Posidonia. Bulu babi, Trongylocentrotus intermedius memakan daun hijau lamun Phyllospadix iwantensis yang tumbuh di daerah dengan substrat karang. Lamun menduduki rangking dua atau tiga dalam rantai makanan dan kriteria frekuensi keterdapatan, tetapi tersedia kurang dari 10% berat pada setiap bulu babi dewasa. Menurut percobaan makan dari bulu babi, kecepatan konsumsi lamun per hari sekitar 1/3 dari Laminaria sp. Dengan menggunakan kriteria efisiensi assimilasi berat, Phyllospadix menunjukkan lebih rendah secara umum dibandingkan dengan algae (Phyllospadix 32,4%, algae 56,7-83,4%). Avertebrata yang hidup di laut tidak dapat memakan karbohidrat karena mereka kurang mempunyai enzym. Di samping itu, tidak ada nilai makanan pada lamun untuk fauna karena rendahnya kecepatan penggunaan lamun. Tidak ada hal yang berarti dari ikan yang memakan lamun. Angsa dan bebek memakan lamun pada daerah ugahari yang dingin. Di Karibia dilaporkan adanya grazing lamun oleh bulu babi dan ikan baronang.
Berdasarkan basil analisis isi perut, banyak dari ikan memakan lamun, di mana ikan tersebut hidup. Beberapa ikan pelagis yang berenang secara bergerombol memakan daun Zostera. Variasi dinamika hubungan rantai makanan disebabkan oleh kehadiran atau ketidak-hadiran beberapa hubungan trofik oleh migrasi dari biota penghuni tetap atau sementara; adanya perubahan yang cepat dari perkembangan perubahan makanan oleh predator; dan adanya perubahan musiman dari kebiasaan makan oleh predator karena adanya variasi musiman terhadap melimpahnya makanan untuk fauna.
5. Fungsi dan manfaat Lamun
Lamun merupakan bagian dari beberapa ekosistem dari wilayah pesisir dan lautan yang perlu dilestarikan karena memberikan kontribusi pada peningkatan hasil perikanan dan pada sektor lainnya seperti pariwisata. Secara langsung dan tidak langsung memberikan manfaat untuk meningkatkan perekonomian terutama bagi penduduk di wilayah pesisir. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi sehinga dapat menjadi tempat hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Echinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta).
Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem karena Lamun merupakan sumber pakan bagi invertebrata, tempat tinggal bagi biota perairan dan melindungi mereka dari serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi. Lamun dapat menghalangi pemangsaan fauna bentos sehingga kerapatan dan keanekaragaman fauna bentos tinggi.
Fungsi optimum ini dapat tercapai apabila kondisi lingkungannya mendukung pertumbuhan dan perkembangan lamun. Padang lamun yang lebat dan sehat sangat berperan dalam kejernihan suatu perairan, dimana daun-daun lamun akan menangkap partikel sedimen dan menstabilkan substrat dasar, sehingga bila padang lamunnya bagus maka terumbu karangnya akan bagus dan juga sebagai tumbuhan tingkat tinggi satu-satunya di lautan, lamun menjadi penghasil oksigen (O2) yang sangat penting bagi kehidupan berbagai biota laut.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepunahan Lamun
Belakangan ini keberadaan Lamun di Indonesia mulai mengalami penurunan populasi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pemeliharaan dan peran Lamun bagi kehidupan
2. Kondisi kemiskinan masyarakat pesisir
3. Terbatasnya alternatif penghasilan untuk masyarakat lokal
4. Belum adanya pengelolaan padang lamun yang terintegrasi
5. Kelemahan hukum dan upaya penegakannya
7. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kepunahan Lamun
Dalam menghadapi gangguan langsung maupun tidak langsung yang dapat mengancam kepunahan populasi Lamun di Indonesia maka perlu dilakukan beberapa usaha pelestariannya antara lain :
1. Melakukan penyuluhan mengenai pentingnya Lamun bagi kehidupan ekosistem pantai
2. Rehabilitasi padang Lamun
3. Kegiatan penanaman Lamun
4. inventarisasi dan pemetaan padang lamun, monitoring dan perlindungan habitat lamun


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pada pembagian jenis tumbuhan mangrove terdiri dari Rhizophora sp., Ceriops sp., Exocoecaria sp., Lumnitzera sp., Bruguiera sp. dan Avicennia marina sedangkan pada pembagian jenis tumbuhan lamun terdiri dari Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halophila decipiens, Halophila minor, Halophila ovalis, Halodule pinifolia, Halophila spinulosa, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, Thalassodendron ciliatum, dan Thalassia hemprichii.
2. a. Karakteristik pada tumbuhan mangrove terdiri dari :
 Tanah
Jenis tanah pada hutan mangrove umumnya alluvial biru smpai coklat keabua-abuan. Tanah ini berupa tanah lumpur kaku dengan persentase liat tinggi yang tinggi, bervariasi dari tanah liat biru, dengan sedikit atau tanpa bahan organik, sampai tanah lumpur coklat hitam yang mudah lepas karena banyak mengandung pasir dan bahan organik.Kandungan kimia tanah hutan mangrove umumnya kaya akan bahan organik, dan mempunyai nilai nitrogen yang tinggi. Secara umum tanah hutan mangrove termasuk tanah alluvial hydomorf. Tanah ini tarafnya muda dan tergolong dalam tanah-tanah regosol atau entisol.
 Salinitas
Bagi kebanyakan pohon-pohon mangrove dan fauna penggali liang dalam tanah, salinitas air pasang mungkin kurang penting dibandingkan dengan salinitas air tanah. Salinitas air tanah umumnya lebih rendah dibandingka dengan air pasang diatasnya, hal ini disebabkan karena terjadinya pengenceran oleh air tawar (hujan) yang merembes ke dalam tanah. Bagi akar-akar pohon dan fauna penggali lubang, faktor terpenting bukan hanya kadar NaCl tetapi tekanan osmotik. Salinitas bervariasi dari hari ke hari dan dari musim ke musim. Selama siang hari salinitas lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan. Demikian pula pada musim pasang, salinitas akan turun dan cenderung untuk naik bila surut kembali.
b. Karakteristik pada tumbuhan lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga dan berpembuluh (vascular plant) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam air laut. Tumbuhan lamun jelas memiliki akar, batang, daun, buah dan biji. Lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas Alismatidae sukunya Hydroecharitaceae dengan contoh jenis Syrinsodium isoetifolium.
3. a. Organisme yang hidup pada hutan mangrove dibedakan menjadi kelompok Mikroorganisme dan Makroorganisme yaitu :
1). Mikroorganisme, Bakteri yang hidup pada substrak dasar di hutan mangrove berperan dalam proses perubahan senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Proses ini dinamakan proses mineralisasi.
2). Hewan darat yang berasosiasi dengan hutan mangrove seperti burung, kera berekor panjang ( Macaca fascicularis), ular, buaya, dan biawak.
3). Hewan Laut (tiram Crassostrea cucullata), siput ( Littoraria sp.), keong (Cassidulu sp.), seperti ikan glodok (Periophthalmus sp), kepiting Varuna yui, kepiting Uca sp, dan udang (Alpheis sp.)
b. Organisme yang hidup pada tumbuhan lamun beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Echinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta).
B. Saran
Saran yang saya berikan dalam makalah ini adalah sebaiknya diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai cakupan materi serta tujuan pembelajaran yang ingin di capai dari pokok bahasan tentang tumbuhan mangrove dan lamun khususnya lingkungan perairan laut.


DAFTAR PUSTAKA
Arief A. 2003. Hutan Mangrove : Fungsi dan Manfaatnya. Kanisius. Yogyakarta.
Barnes. R.S.K. 1974. Estuarine Biology. In : Studies in Biology No. 49 Edward Arnold Ltd. (pbl.) London, 76 pp.

Giesen W, Stephan W, Max Z, dan Liesbeth S. 2007. Thailand. Mangrove Guidebook For Southesth Asia. FAO and Wetlands International.
Komatsu, T., 1996. Influence Of Zostera Bed On The Spatila Distributon Of Water Flow Over a Broad Geographic Area In : Seagrass Biology (Jhon Kuo el al., eds) Proceeding of an International Workshop.

Odum, W.E & E.J. Heald, 1972. Tropic analysis ofan estuarine mangrove community. Bz,11. of
Marine Science 22 : 671 – 738.
Setyawan AD, Susilowati A, dan Sutarno. 2002. Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa. Kelompok Kerja Biodiversitas Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Short, F.T and S. W. Nixon, 1996. Long Term Decline In Eelgrass Zostera Marina, Lingked To Increased Housing Development In: Seagrass Biology (Jhon Kuo et al., des) Proceending Of An International Workshop.

Tomlinson PB. 1996. The botany of mangrove. Cambridge University Press. UK.
Wikipedia. 2011. Hutan Bakau. http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau. Diakses pada tanggal 27 Juli 2012 pukul 12.07 WIB.

Posted 25th February by suharno jhon
Labels: lamun dan mangrove

Subscribe
Subscribe
RSS Feed
• Add to Google Reader
• View RSS Feed
Loading
Send feedback

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/-N4Ga5m-tdRA/T-QDrvHnyKI/AAAAAAAAAYo/hlW7M-Rx7NM/s1600/3-3c.jpg&imgrefurl=http://nabilaarifannisa.blogspot.com/2012/06/pengelolaan-ekosistem-padang-lamun.html&usg=__0mS1vAs8BYJg6noRyfWQctTFJv4=&h=476&w=633&sz=77&hl=en&start=4&zoom=1&tbnid=A4ch5yZgnCmZKM:&tbnh=103&tbnw=137&ei=AS1pUZWRA4vIrQfvxYHYCg&prev=/search%3Fq%3Dlamun%26um%3D1%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26hl%3Den%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1&sa=X&ved=0CDIQrQMwAw

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://0.tqn.com/d/forestry/1/0/S/r/mangrove_edge.JPG&imgrefurl=http://forestry.about.com/od/rainforests/ss/mangrove_forest.htm&usg=__svmH-44bYhX_ZZu6eOY7hbOPSkA=&h=1452&w=2158&sz=859&hl=en&start=16&zoom=1&tbnid=cg0Sd7WwjbpZcM:&tbnh=101&tbnw=150&ei=IS5pUfu_A42GrAek-4HACQ&prev=/search%3Fq%3Dmangrove%26um%3D1%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26hl%3Den%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1&sa=X&ved=0CEoQrQMwDw

Ekologi Merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik

Aside

Ekologi Merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Dibawah ini merupakan beberapa istilah yang sering digunakan dalam Ekologi.

1. Ekosistem : Sekumpulan beberapa komunitas yang saling berinteraksi dengan lingkungan membentuk suatu sistem ekologi. Ex : ekosistem air laut, ekosistem dataran tinggi, ekosistem hutan tropis, dll.
2. Bioma : Sekumpulan beberapa komunitas yang saling berinteraksi dengan lingkungan membentuk suatu sistem ekologi yang khas sesuai dengan iklim daerah tertentu. Ex : bioma gurun, bioma tundra, bioma sabana, dll.
3. Populasi : Sekumpulan makhluk hidup yang sejenis yang hidup pada habitat tertentu. Ex : sekumpulan harimau, beberapa ayam, sekelompok anak di halaman, dll.
4. Individu : Makhluk tunggal dan dapat hidup dengan sendiri. Ex : seekor singa, seorang anak laki-laki, sebatang pohon jati, dll.
5. Komunitas : Sekumpulan populasi berbagai jenis makhluk hidup yang hidup bersama di suatu habitat tertentu. Ex : populasi katak, ikan, kerbau, tikus, ular dan padi membentuk komunitas sawah.
6. Lingkungan : Segala sesuatu yang berada di sekitar kita/makhluk hidup. Terbagi menjadi 2 macam yaitu:
1. Lingkungan ABIOTIK merupakan lingkungan yang terdiri dari benda mati atau tidak hidup.
2. Lingkungan BIOTIK merupakan lingkungan yang terdiiri dari makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia.
7. Simbiosis : Hubungan antara 2 makhluk hidup atau lebih yang berbeda jenis
8. Simbion : Makhluk hidup yang melakukan atau membentuk simbiosis
9. Simbiosis Parasitisme : Hubungan antara 2 makhluk hidup yang satu diuntungkan dan yang satunya merugikan yang lain
10. Simbiosis Komensalisme : Hubungan antara 2 makhluk hidup yang satu diuntungkan dan yang lainnya tidak rugi.
11. Simbiosis Mutualisme : Hubungan antara 2 makhluk hidup yang saling menguntungkan satu sama lain.
12. Produsen : Makhluk hidup penghasil bahan organic/makanan yang dibutuhkan oleh makhluk hidu yang lain untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Ciri prosuden adalah makhluk hidup yang mempunyai klorofil.
13. Konsumen : Makhluk hidup pemakai bahan organik yang diihasilkan oleh produsen untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
14. Pengurai atau Dekompuser : Makhluk hidup yang dapat menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati (menjadi sampah dan bangkai) menjadi komponen penyusun tanah.
15. Organisme Autotrof : Organisme yang dapat membuat/menghasilkan bahan organik sendiri yang dibuat dari bahan-bahan anorganik yang berasal dari lingkungannya.
16. Organisme Heterotrof : Organisme yang tidak dapat membuat/menghasilkan bahan organik sendiri.
17. Adaptasi : Proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya.
18. Adaptasi Morfologi : Penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungannya berdasarkan bentuk/alat tubuh.
19. Adaptasi Fisiologi : Penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungannya berdasarkan fungsi organ tubuh.
20. Adaptasi Tingkah Laku : Penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungannya dengan memperlihatkan tingkah lakunya.

 

Berikut ini akan kami berikan beberapa istilah-istilah beserta defenisinya, yang sering digunakan dalam Ilmu Biologi. Akan disusun berdasarkan abjad:

 

A

  • Abiotik: benda tak hidup, meliputi faktor fisika misalnya suhu, cahaya, kelembapan, faktor kimia misalnya keasaman, dan materi misalnya batu, besi.
  • Adaptasi: penyesuaian makhluk hidup terhadap lingkungannya.
  • Amburakral: sistem saluran air yang digunakan untuk bergerak, bernapas, dan menangkap mangsa pada kelompok Echinodermata.
  • Anteridium: alat kelamin jantan penghasil sperma pada lumut dan paku.
  • Arkegonium: alat kelamin betina, penghasil ovum pada lumut dan paku.
  • Autotrof: organisme yang mampu menyusun zat organik dari zat anorganik dengan bantuan energi cahaya.

B

  • Badan Golgi: organel yang berfungsi untuk sekresi sel.
  • Biomassa: berat total, yakni berat seluruh tubuh per satuan luas pada waktu tertentu.
  • Biotik: benda hidup, terdiri dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan manusia.

D

  • Daya lenting ekosistem: kemampuan ekosistem untuk menuju ke keseimbangan lingkungan.
  • Dekomposer: mikroorganisme pengurai yang menguraikan zat organik menjadi zat anorganik.
  • Detritivor: organisme pemakan serpihan atau sisa organisme lain.

E

  • Ekologi: ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  • Ekosfer: lapisan Bumi yang di dalamnya terdapat interaksi antara komponen biotik dan abiotik.
  • Ekosistem: suatu areal yang di dalamnya berlangsung interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  • Eukariot: sel yang memiliki membran inti dan sistem endomembran.

F

  • Fisiologi: ilmu tentang fungsi kerja organ tubuh.
  • Fitoplankton: plankton tumbuhan, yakni tumbuhan renik yang melayang-layang di air dan merupakan sumber makanan bagi ikan yang melayang-layang di air dan merupakan sumber makanan bagi ikan dan hewan lainnya.
  • Floem: ikatan pembuluh tapis, berfungsi mengangkut zat makanan dari daun ke seluruh tubuh tumbuhan yang membutuhkan.
  • Fotoautotrof: organisme yang mampu mensinstesis bahan organik dengan pertolongan energi cahaya.
  • Fotosintesis: pembetukan zat organik dari zat anorganik oleh klorofil dengan adanya energi cahaya.
  • Fragmentasi: reproduksi dengan cara pemutusan tubuh organisme menjadi bagian-bagian (fragmen) yang lebih kecil.

G

  • Genetika: ilmu yang mempelajari pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya.
  • Gulma: tanaman pengganggu, yaitu tanaman liar yang tidak dikehendaki, yang hidup bersama tanaman utama

H

  • Hemolimfa: darah serangga yang bercampur dengan cairan tubuh.
  • Heterotrof: organisme yang tidak mampu menyusun zat organik dari zat anorganik
  • Hibernasi: kemampuan organisme untuk tidur panjang untuk mengurangi metabolisme tubuh karena pengaruh lingkungan.
  • Hifa: benang-benang penyusun tubuh pada jamur.
  • Hipotesis: dugaan sementara yang harus dibuktikan.
  • Homoioterm: suhu tubuh yang tetap dan tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Misalnya suhu tubuh burung dan manusia.

I

  • Individu: satuan terkecil makhluk hidup.
  • Interaksi: hubungan timbal balik yang menimbulkan saling ketergantungan.
  • Iritabilitas: kemampuan menanggapi rangsangan.

J

  • Jaringan: sekumpulan sel yang bentuk dan fungsinya sama.
  • Jaring-jaring makanan: proses makan-dimakan dalam suatu ekosistem yang menggambarkan aliran makanan yang kompleks (saling silang).

K

  • Kemoautotrof: organisme yang mampu mensistesis bahan organik dengan pertolongan energi kimia.
  • Keseimbangan ekosistem: seimbangnya energi yang masuk dan keluar pada suatu ekosistem sehingga terdapat keseimbangan antara produser, konsumer, dan pengurai.
  • Klimaks: suatu keadaan yang tercapai akibat suksesi sehingga terdapat keseimbangan dan tidak terjadi suksesi lagi.
  • Komunitas: kumpulan makhluk hidup antarpopulasi yang mengadakan interaksi.
  • Konjugasi: peristiwa bertemunya dua sel untuk melakukan pertukaran inti atau salah satu protoplasma sel mengalir ke sel yang lain.
  • Kormus: tumbuhan yang mempunyai akar, batang, dan daun sejati.
  • Kromosom: benang-benang pembawa sifat yang ada di dalam inti sel.

L

  • Lipoprotein: lemak protein, zat yang menyusun membran sel.
  • Lisosom: erganel pencerna, berisi enzim pencerna.

M

  • Meristematik: jaringan yang sel-selnya selalu membelah diri.
  • Metabolisme: reaksi-reaksi kimiawi di dalam tubuh yang terdiri dari reaksi penyusun (anabolisme) dan penguraian (katabolisme).
  • Miselium: kumpulan benang hifa yang membentuk struktur tertentu.
  • Mitokondria: organel penghasil energi pada sel.
  • Multiselular: organisme yang tubuhnya tersusun atas banyak sel.

N

  • Netralisme: hubungan yang netral, tidak terjadi interaksi meskipun di dalam habitat yang sama.
  • Nisia: peranan makhluk hidup di lingkungannya yang meliputi jenis makanan, cara mencari makanan, dan waktu mencari makan.
  • Nukleoplasma: cairan nukleus.

O

  • Omnivor: organisme pemakan segala
  • Organel: alat khusus di dalam sel yang mempunyai fungsi khusus.
  • Organisme: makhluk hidup, tersusun atas organ dan sistem organ.

P

  • Pembastaran: persilangan untuk menghasilkan individu baru.
  • Persilangan: perkawinan silang, perkawinan antarindividu yang memiliki sifat beda.
  • Plastida: butir-butir yang berisi pigmen tertentu di dalam sel.
  • Poikiloterm: suhu tubuh yang tidak tetap dan mengikuti perubahan suhu lingkungannya.
  • Populasi: kumpulan individu sejenis yang mengadakan interaksi pada suatu wilayah pada waktu tertentu.
  • Prokariot: sel yang tidak memiliki membran inti dan tidak memiliki sistem endomebran.
  • Protalium: hasil pertumbuhan spora pada tumbuhan paku.
  • Protoplasma: isi sel yang terdiri dari bagian yang padat yaitu organel, dan cair yaitu sitoplasma.
  • Pseudopodium: kaki semu, berupa penjuluran plasma pada protozoa.

R

  • Rantai makanan : gambaran terjadinya aliran makanan dalam proses makan-dimakan dalam ekosistem.
  • Retikulum endoplasma: organel yang tersusun atas saluran-saluran yang berfungsi mengangkut dan menyalurkan zat-zat ke seluruh sel.
  • Ribosom: organel yang berfungsi mensistesis protein.

S

  • Saprofit: hidup dengan memanfaatkan sampah organik.
  • Saraf tangga tali: sistem saraf yang terdiri dari pasangan ganglion di tiap ruas tubuh, yang dihubungkan oleh serabut saraf sehingga membentuk gambaran seperti tangga dari tali.
  • Scavenger: pemakan bangkai.
  • Seleksi alam: proses pemilihan yang dilakukan oleh alam.
  • Selulosa: zat organik penyusun dinding sel tumbuhan, misalnya terdapat pada kayu, kertas, kapas.
  • Simbiosis: hubungan yang erat antara dua organisme.
  • Spesies: jenis, yaitu kelompok organisme yang dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan yang fertil.
  • Spirakel: lubang keluar masuknya udara pada sistem trakea serangga.
  • Spora: alat perkembangbiakan yang dihasilkan tumbuhan tingkat rendah, berdinding tebal untuk perlindungan.
  • Stigma: bintik mata pada Euglena; kepala putik kepada tumbuhan.
  • Suksesi: pergantian dominasi pada suatu ekosistem menuju ke klimaks.

T

  • Takson: kedudukan/golongan tertentu organisme.
  • Talus: tubuh tumbuhan yang tidak berakar, tidak berbatang, dan tidak berdaun.
  • Trakea: saluran hawa pada serangga yang berfungsi untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida ke luar tubuh.
  • Tumbuhan perintis: tumbuhan yang hidup pertama kali di batuan sehingga memungkinkan munculnya kehidupan untuk organisme berikutnya.
  • Tumbuhan berumah dua: tumbuhan yang hanya memiliki salah satu alat perkembangbiakan; alat perkembangbiakan jantan saja atau alat perkembangbiakan betina saja.
  • Tumbuhan berumah satu: tumbuhan yang dalam satu individu memiliki bunga jantan dan bunga betina.

U

  • Uniseluler: organisme bersel satu.

V

  • Vakuola berdenyut: rongga di dalam sel yang berkembang-kempis untuk memompa air keluar dari sel.

X

  • Xilem: ikatan pembuluh kayu, mengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun

 

Abiotik adalah komponen alam semesta yang tidak hidup.

Abrasi adalah pengikisan pantai oleh arus atau ombak.

Adaptasi adalah cara makhluk hidup mengatasi tekanan lingkungan untuk bertahan hidup.

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian fungsi alat-alat tubuh organisme terhadap lingkungannya.

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup.

Adaptasi kurtural adalah penyesuaian pola hidup terhadap kebiasaan atau tingkah laku.

Algae adalah sekelompok organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata.

Aliran energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, konsumen primer, konsumen tingkat tinggi, sampai ke saproba di dalam tanah.

Amfibi adalah hewan yang dapat hidup didua alam, yaitu darat dan air.

Angiospermae adalah tumbuhan berbunga.

Areal merupakan suatu lahan yang menjadi tempat tinggal berbagai macam makhluk hidup.

Avertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang.

Bahan organik mencakup semua bahan yang berasal dr jaringan tanaman dan hewan, baik yang hidup maupun yg telah mati, pada berbagai tahana (stage) dekomposisi (Millar, 1955).

Bakau adalah salah satu jenis dari mangrove.

Bakteri adalah organisme bersel satu yang hanya dilihat dengan bantuan mikroskop.

Biota perairan adalah berbagai jenis organisme yang hidup di perairan laut, tawar maupun payau.

Crustacea adalah hewan akuatik yang ada di laut dan darat berbentuk udang udangan.

Daerah teresterial adalah suatu kawasan daratan yang mencakup semua organisme di dalam suatu daerah yang saling memperngaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman biotik dan daur-daur bahan yang jelas di dalam sistem.

Detritus adalah organisme yang memakan partikel partikel organik.

Detrivitor adalah organisme yang memakan partikel partikel organik atau detritus.

Difusi adalah berpindahnya zat dari larutan yang berkonsentrasi tinggi ke larutan yang berkonsentrasi rendah.

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya.

Ekologi laut adalah interaksi makhluk hidup dengan seluruh komponen yang ada di laut.

Ekologi laut tropis adalah interaksi makhluk hidup dengan seluruh komponen yang ada di laut tropis.

Ekologi laut subtropis adalah interaksi makhluk hidup dengan seluruh komponen yang ada di laut subtropis.

Ekologi laut kutub adalah interaksi makhluk hidup dengan seluruh komponen yang ada di laut kutub.

Ekosistem adalah hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komunitas dengan lingkungan abiotiknya pada suatu tempat tertentu.

Ekosistem lamun adalah sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik.

Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove.

Ekosistem terumbu karang merupakan habitat biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton.

Ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi.

Erosi adalah pengikisan tanah oleh air.

Evolusi adalah perkembangan makhluk hidup dari bentuk yang sederhana ke betuk yang lebih kompleks secara bertahap dan waktu yang sangat lama.

Fenomena adalah kejadian pada tempat dan waktu tertentu.

Fitoplankton adalah tumbuhan renik yang biasanya mengapung di permukaan air atau di melayang di kolom air.

Fluktuasi salinitas adalah berubahnya kandungan garam dalam suatu waktu.

Fungi merupakan kerajaan untuk jamur jamuran.

Fungsi ekologis adalah kegunaan untuk kebaikan lingkungan sekitar.

Fungsi ekonomi adalah kegunaan untuk mendapatkan keuntungan.

GRK adalah Gas Rumah Kaca.

Habitat merupakan tempat hidup dan tempat tinggal organisme.

Herbivora adalah hewan pemakan tumbuhan.

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut.

Hutan negara adalah hutan milik negara yang dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat.

Jamur adalah organisme yang tidak memiliki klorofil dan kebanyakan tumbuh dengan spora.

Jaring jaring makanan adalah urutan rantai makanan.

Karnivor adalah hewan pemakan daging.

Kondisi georafis adalah keadaan alam di wilayah tertentu tempat makhluk hidup tinggal.

Konservasi alam adalah pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam untuk kebutuhan hidup.

Konversi adalah suatu usaha peralihan dari sesuatu yang telah ada.

Laguna adalah sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya.

Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae), mempunyai akar, batang, daun sejati yang hidup pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik.

Limbah adalah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tanggaindustripertambangan, dan sebagainya.

Limbah domestik adalah sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan di permukiman penduduk.

Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7 (Miettinen, 1977).

Mangrove adalah komunitas vegetasi atau tumbuhan pantai tropis yang mampu menyesuaikan diri dan tumbuh di daerah berlumpur atau daerah tergenang pasang surut.

Metabolisme adalah proses pengolahan (pembentukan dan penguraian) zat -zat yang diperlukan oleh tubuh agar tubuh dapat menjalankan fungsinya.

Mikroorganisme adalah makhluk hidup yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop.

Moluska adalah hewan bertubuh lunak yang terlindungi oleh lapisan mantel.

Nutrien adalah unsur atau senyawa kimia yang digunakan untuk metabolisme atau fisiologi organisme.

Organisme adalah berbagai makhluk hidup yang ada di daratan maupun perairan.

Organisme air adalah makhluk hidup yang sebagian besar hidupnya di dalam air.

Partikel adalah bagian kecil dari suatu benda.

Pemijahan adalah pengembang biakan suatu organisme.

PH adalah derajat keasaman untuk mengukur kadar asam atau basa pada suatu larutan.

Predator adalah binatang yang berburu dan memangsa binatang lain atau pemangsa.

Primata merupakan suatu makhluk hidup yang memiliki kekrabatan dekat dengan manusia ,ex orang utan.

Produsen adalah penghasil suatu barang yang dibutuhkan konsumen

Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula.

Produksi sekunder adalah suatu kegiatan yang menghasilkan suatu hasil barang untuk kebutuhan sehari hari.

Protozoa merupakan hewan bersel satu, yang umumnya berukuran mikroskopis, dan hidup di tempat yang lembab dan berair.

Populasi adalah sekelompok makhluk hidup sejenis yang hidup di wilayah dan waktu yang sama.

Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu.

Rantai makanan detritus merupakan rantai makanan sisa contoh bakteri pengurai.

Rantai makanan langsung adalah peristiwa makan memakan mulai dari tingkatan trofik terendah yaitu fitoplankton sampai ke tingkatan trofik tertinggi yaitu ikan karnivora berukuran besar, mamalia, burung dan reptil .

Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.

Relung (niche) merupakan tempat tinggal organisme dan juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan.

Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 lalu memecah senyaw organik menjadi CO2 , H2O, dan energi.

Salinitas adalah kadar garam air laut.

Sampah organik adalah kotoran yang berasal dari tumbuh tumbuhan dan dapat membusuk.

Satwa liar adalah hewan yang hidup di alam bebas.

Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan dari cairan dengan menggunakan gaya gravitasi untuk mengendapkan partikel suspensi.

Semak belukar adalah suatu kategori tumbuhan berkayu yang dibedakan dengan pohon karena cabangnya yang banyak dan tingginya yang lebih rendah, biasanya kurang dari 5-6 meter.

Senyawa organoklorin adalah zat pestisida yang sangat berbahaya karena residunya masih tertinggal dalam waktu yang lama.

Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen.

Spesies adalah jenis suatu makhluk hidup yang membedakan satu dangan yang lain.

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae.

Tingkat trofik merupakan drajat hidup makhluk hidup dilihat dari rantai makanan.

Variabilitas adalah ukuran yang menunjukkan tersebarnya data pengamatan di sekitar mean.

Zooxanthellae adalah suatu jenis algae yang bersimbiosis dalam jaringan karang.

 

MODUL I PENGANTAR METODE PENELITIAN Penelitian: usaha menyalurkan rasa ingin

Aside

MODUL I

 

PENGANTAR METODE PENELITIAN

 

Penelitian: usaha menyalurkan rasa ingin tahu terhadap suatu permasalahan dan berusaha mencari jawab atas rasa ingin tahu tersebut.

Penelitian merupakan usaha menyalurkan bakat atau rasa ingin tahu

 

A. Jenis-Jenis Penelitian

1.  Berdasarkan Pemakaian

  • Penelitian Dasar (Basic Research) : tidak mempertimbangkan pemakaian praktis dari hasil penelitian.  Ilmu untuk pengembangan ilmu
  • penelitian Terpakai (aplicated research) : hasilnya umumnya langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia, ex : Penelitian pendidikan pertanian dll

2. Berdasarkan Tempat

  • Lapangan : survey atau eksperimen
  • Laboratorium : observasi atau eksperimen
  • Pustaka : studi literature

3. Berdasarkan Taraf

  • Deskritif : memberikan lukisan atau gambar atau uraian dalam menjawab masalah          
  • Inferens : mengambil kesimpulan umum dari yang sifatnya spesifik (meberi gambaran umum)

4. Berdasarkan Tujuan

  • Develoment atau Adaptive : menggali atau mengembangkan dengan cara melakukan berbagai penyesuaian
  • Verifikatif : menguji yang telah ada
  • Eksploratif : penelitian kasar, biasanya sebagai penelitian pendahuluan

5. Bidang Bidang Ilmu

  • Sosial : sejarah, ekonomi, hukum
  • Eksata : biologi, kimia, fisika dll

B. Etika Penelitian

            Etika penelitian merupakan tindakan atau sikap yang terkait dengan sopan santun dalam penelitian, Yang intinya pada kejujuran ilmiah.

Oleh karena itu seorang penelitian harus memenuhi berbagai syarat tertentu agar penelitian yang dilakukan tidak melanggar etika penelitian. Syarat –syarat yang dimaksud adalah :

  1. Jangan jadi plagiator
  2. jangan catut nama orang
  3. Jangan mencuri hasil penelitian orang
  4. Jangan menukangi data
  5. Jangan kikir dengan hasil penemuan dan hasil penelitian

 

C. Peneliti

            Peneliti adalah orang yang melakukan penelitian. Umumnya manusia dalam kehidupan sering mencari masalah dan berusaha mencari jawaban atas permasalahan tersebut. Setiap kajian atau ilmu akan mempengaruhi peneliti terhadap cara peneliti melakukan proses penelitiannya.

Berikut beberapa jenis peneliti :

1. Peneliti Induktif (peneliti pekerja)

  • mengumpulkan data dan disimpulkan
  • Cara yang dipakai berdasarkan pengalaman konkrit, sehingga menghasilkan pengethuan
  • menghasilkan kaum empiris

 

2. Penelitian Deduktif (Peneliti pemikir)

  • bergerak dari hipotesis dan mencari data untuk menolak  atau menerima hipotesis
  • mendasarkan rasio sebagai pangkal dan sumber pengetahuan
  • melahirkan faham rasionalisme

 

3. Peneliti  Analitik (berpikir dan pekerja)

  • mengembangkan metode IPTEK, yaitu metode ilmiah
  • mengembangkan cara berpikir deduktif dan induktif

 

Sifat-sifat Peneliti

  1. Kritis : tanggap terhadap berbagai fenomena
  2. Tidak dogmatis : tidak berpikir benar salah, tapi ingin selalu menguji kebenaran
  3. Gemar ilmu pengetauan : didasari pada kejujuran ilmiah
  4. Tidak over acting dan terlalu aktif

 

Dengan menggunakan “jembatan keledai” syarat untuk menjadi peneliti yang baik (kawakan) hendaknya memiliki 12 sifat berikut ini :

  1. Intelligence : kemampuan IQ, merupakan factor esensial
  2. Interest : rasa ingin tahu yang spesifik dan mendalam
  3. Imagination atau  Intuition: daya khyal untuk mencoba sesuatu yang orisinil
  4. Initiative : tidak menunggu atau menunda dalam memulai sesuatu
  5. Information : mengumpulkan informasi
  6. Infentive atau Innovation : bersifat mandiri
  7. Industrous : bekerja keras dan disiplin
  8. Intense observation : pengamatan yang intensif
  9. Integrity : kejujuran yang mutlak
  10.  Infectious antusism : antusias untuk dapat menarik peneliti dan pengguna
  11.  Indefatigable writer : penulis yang tidak pernah putus asa dan harus senang menulis atau membuat catatan –catatan
  12.  Incentive : kepuasan yang merupakan budaya peneliti apabila 11 syarat tersebut sudah dilakukan

 

 

 

 

TRIO ESSENSI PENELITIAN

 

Tiga dasar atau modal pokok dalam melakukan penelitian adalah :

  1. Akal (Logic)
  2. Intuisi (Intuition)
  3. Daya Khayal (Imagination)

 

A. Daya Khayal

    Suatu kemampuan seseorang untuk memvisualisasikan suatu objek dengan suatu benda atau objek tertentu

 

Cara mempertajam daya khayal antara lain :

1. Berpikir produktif dan reflektuif (banyak membaca buku dan diskusi)

2. Mengarahkan pikiran pada objek masalah

3. Sadar akan daya khayal belum tentu benar, jadi harus menguji

4. menghindari mental blok (pemikiran berpola)

5. Jangan selalu tegang

 

Kegunaan daya khayal :

1. membentuk hipotesis

2. aplikasi dan implementasi penelitian

3. Inspirasi objek baru

4. memperoleh bukti baru hasil penelitian

5. Penentuan pengamatan dan interpretasi hasil

 

Faedah diskusi (5 falsafah tahu) :

1. memperoleh sejumlah pendapat

2. adanya kombinasi data dan pengalaman

3. menemukan kesalahan

4. menghindari pusing

5. memecah mental blok

 

Falsafah Tahu :

1. orang tahu bahwa dia tidak tahu     : belajar padanya

2. orang tak tahu bahwa dia tahu         : dekati, sadarkan, lalu belajar padanya

3. orang tahu bahwa dia tak tahu         : suruh belajar

4. orang tak tahu bahwa dia tahu         : rusak

 

B. Intuisi

Intuisi merupakan salah satu cara memperoleh pengetahuan yang sebenarnya kurang ilmiah, akan tetapi harus dimanfaatkan oleh peneliti dalam rangka membantu penyelesaian proses mencari jawaban atas permasalahan dalam penelitian

 

Intuisi merupakan jawaban atas permasalahan yang dipikirkan atau tidak, tetapi ada keinginan untuk memperoleh jawaban atas permasalahan masa lalu yang belum terjawab

 

Firasat merupakan perasaan, seolah tanpa disadari ada jawaban dari permasalahan yang kita hadapi. Perasaan itu belum tentu benar, dan akan diketahui setelah ada kejadian

 

Ilham merupakan petunjuk, yaitu jawaban yang datang dari Tuhan terhadap persoalan seseorang. Kebenarannya mutlak

 

Cara memperoleh Intuisi

1. Konsentrasi pemikiran lebih mendalam sampai titik jenuh

2. bebaskan pikiran dan persoalan lain

3. ada jaminan kontiunitas penelitian

4. rileks setelah kerja keras

5. rangsangan positif, berupa diskusi, baca dan tulis-tulis catatan

6. mencatat kejadian yang baru dialami

 

Kegunaan Intuisi

1. mempertajam analisis

2. membuat kesimpulan

3. mencari rekomendasi

4. aplikasi pen elitian

5. cari objek baru penelitian

 

 

 

 

 

 

MODUL III

 

MACAM-MACAM TEKNIK SAMPLING

Secara umum teknik sampling dibedakan atas :

  1. Teori Kemungkinan ( Probability)
  2. Teori Terbatas (Non Probability)
  3. Teori Gabungan ( Probability dan Non Probability)

A. Probability Sampling

  1. Simple random sampling atau sampling acakan sederhana,
  2. Proportionate stratified random sampling atau sampling acakan secara proposional menurut stratifikasi,
  3. Disproportionate stratified random sampling atau sampling acakan secara tak-proposional menurut stratifikasi 
  4. Area atau “cluster” sampling, yaitu sampling menurut daerah atau pengelompokan. 

Sampling Acakan      

  • Ciri utama ialah setiap unsur dari keseluruhan populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih.
  • Kesempatan tersebut harus independen artinya kesempatan bagi setiap unsur untuk dipilih tidak mempengaruhi kesempatan unsur-unsur lain untuk dipilih.
  • Sampling acakan sederhana dilakukan dengan cara

 (1) undian,

 (2) menggunakan tabel anggka,

 (3) menggunakan komputer.

Sampling Acakan proposional dengan Stratifikasi 

  • Populasi biasanya perlu kita golongkan (stratifikasi) menurut ciri tertentu untuk keperluan penelitian, Misalkan stratifikasi menurut usia, menurut penghasilan, pendidikan dll
  • Contoh: dari populasi yang  yang sangat banyak kita atur jumlah tiap golongan atau kategori sedemikian rupa sehingga populasi berjumlah 1000 orang. Proporsi yang dipilih sebanyak 100 orang atau 10 persen. Penetuan sampel dari tiap golongan kita lakukan secara acakan. Besarnya sampel tiap golongan disesuaikan dengan proporsinya masing-masing

 

 

 

MODUL IV

Metode Pengumpulan Data        Data artinya informasi yang didapat

Aside

Metode Pengumpulan Data

        Data artinya informasi yang didapat melalui pengukuran-pengukuran tertentu, untuk digunakan sebagai landasan dalam menyusun argumentasi logis menjadi fakta.

Fakta itu sendiri adalah kenyataan yang telah diuji kebenarannya secara empiric, antara lain melalui analisis data.

Secara metodologi dikenal beberapa macam teknik pengumpulan data, diantaranya : Observasi, Wawancara, Angket, Studi dokumentasi

 

A. Observasi

        Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran.

Orang yang melakukan observasi disebut pengobservasi (observer) dan pihak yang diobservasi disebut terobservasi (observee).

        Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan observasi :

  1. Diarahkan pada tujuan tertentu, bukan bersifat spekulatif, melainkan sistematis dan terencana.
  2. Dilakukan pencatatan sesegera mungkin, jangan ditangguhkan dengan mengandalkan kekuatan daya ingat.
  3. Diusahakan sedapat mungkin, pencatatan secara kuantitatif sehingga datanya lebih mudah dimengerti dan dipahami
  4. Hasilnya harus dapat diperiksa kembali untuk diuji kebenarannya.

 

 

B. Wawancara

       Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yeng berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara.    

Orang yang mengajukan pertanyaan dalam proses wawancara disebut pewawancara (interview) dan yang memberikan jawaban disebut (interviewe). Interviewe dibedakan kedalam dua macam, yaitu:

1. Responden adalah sumber data primer, data tentang dirinya sendiri sebagai objek sasaran penelitian,

2. informan ialah sumber data sekunder, data tentang pihak lain, tentang responden. Oleh sebab itu, informan hendaknya dipilih dari orang yang banyak mengetahui atau mengenal keadaan responden.

       Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara:

  1. Menjalani hubungan baik dengan yang akan diwawancarai serta menjelaskan maksud dari wawancara yang akan dilakukan dengan harapan dapat mengungkapkan sebanyak mungkin data yang ingin digali.
  2. Menyampaikan pernyataan yang tercantum dalam kuesioner
  3. Mencatat semua jawaban lisan yang diberikan oleh responden/informan secara teliti, eisien dan efektif dengan memperhatikan maksud yang tersirat dalam jawaban itu.

Macam-macam wawancara

 

Ditinjau dari segi cara untuk mengadakan pendekatan:

  1. Wawancara langsung, ialah wawancara yang dilakukan secara tatap muka..
  2. Wawancara tidak langsung. Wawancara yang dilakukan bukan secara tatap muka melainkan melalui saluran komunikasi jarak jauh, misalnya melalui telepon, melalui radio, dan sebagainya.

 

Ditinjau dari segi sistem kegiatan yang dilaksanakan:

  1. Wawancara berstandar adalah wawancara yang direncanakan berdasarkan pedoman atau daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan lebih dahulu.
  2. Wawancara tidak berstandar ialah wawancara yang tidak direncanakan berdasarkan pedoman atau daftar pertanyaan yang dipersiapkan lebih dahulu. Wawancara macam ini dibedakan dalam dua golongan, yaitu:
    1. Wawancara berstruktur ialah wawancara tidak berstandar yang mengajukan pola dan aturan tertentudalam mengajuka pertanyaan, seperti wawancara yang dilakukan oleh seorang interviewer di layar TV kepada pakar bidang tertentu.

b. Wawancara tidak berstruktur ialah wawancara tidak berstandar yang tidak menggunakan pola aturan tertentu dalam mengajukan pertanyaan.

Dalam pelaksanaannya wawancara tidak berstruktur dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu:

  • wawancara fokus ialah wawancara tidak berstruktur yang pola pertanyaan terpusat pada pokok masalah tertentu seperti wawancara yang dilakukan oleh seorang psikolog kepada klien
  • wawancara bebas ialah wawancara yang tidak berstruktur yang tidak terpusat pada masalah pokok tertentu,
  1. Wawancara sambil lalu ialah wawancara yang objek sasaran tidak diseleksi lebih dahulu melalui metode sampling tertentu, tetapi dipilih secara aksidental. Seistem kegiatan wawancara dapat dilakukan secara berstandar atau tidak berstandar baik yang berstruktur maupun tidak bersruktur yang berfokus atau bebas.

 

Ditinjau dari segi bentuk pertanyaan yang digunakan, wawancara dibedakan ke dalam tiga macam, yaitu:

  1. Wawancara terbuka ialah wawancara yang menggunakan kuesioner terbuka, kuesioner yang memberikan keleluasaan bagi responden untuk memberikan jawaban dengan bebas, tanpa dibatasi oleh alternatif jawab yang ditentukan.
  2. Wawancara tertutup ialah wawancara yang menggunkan kuesioner tertutup, kuesioner yang alternatif jawabannya telah disediakan, sehingga responden tidak mungkin memberikan jawaban lain.
  3. Wawancara setengah tertutup. Wawancara yang menggunakan kuesioner setengah tertutup, artinya kuesioner yang memberikan kesempatan kepada responden untuk mengemukan jawaban lain, atau keterangan tambahan disamping alternatif jawab yang tersedia.

 

C. Angket

       Angket adalah teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner (daftar pertanyaan/isian) untuk diisi langsung oleh responden seperti yang dilakukan dalam penelitian untuk menghimpun pendapat umum.

 

Macam-macam angket

  • Angket Terbuka; belum disediakan jawaban
  • Angket Tertutup; sudah ada jawaban dalam bentuk pilihan
  • Angket Gabungan; gabungan antara terbuka dan tertutup

 

D. Studi Dokumentasi

       Studi dokumentasi ialah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data pribadi responden, seperti yang dilakukan oleh seorang psikolog dalam meneliti perkembangan seorang klien melalui catatan pribadinya.

 

 

 

Inventarisasi Data

 

       Data hasil penelitian, umumnya masih berupa data mentah, bersifat argumentasi untuk menjadi data-data tersebut sebagai data yang siap untuk disajikan dalam tabulasi data perlu diinventarisasi lebih dahulu.

Inventarisasi data ini meliputi:

  1. Editing data ialah pemeriksaan kembali data hasil penelitian
  2. Koding data ialah mengklasifikasikan data hasil penelitian
  3. Penyusunan data ialah menyusun data yang telah diedit dan diberi sandi-sandi itu dalam suatu himpunan data yang tersusun secara sistematik.

 

 

 

 

 

METODE SAMPLING BIOTIK (TUMBUHAN DAN HEWAN SESSILE)

METODE PLOT (BERPETAK)

PLOT dapat berbentuk persegi (kuadrat), segitiga ataupun lingkaran, tetapi yang paling umum dipakai adalah plot kuadrat.

Penerapan metode plot dapat dilakukan dengan dua cara : plot tunggal dan plot berganda

Metode plot Tunggal yaitu penggunakan satu plot sampling yang dianggap mewakili suatu areal penelitian. Ukuran plot ditentukan dengan cara menggunakan kurva spesies area (Kurva minimun area). Luas minimun yang diamati ditentukaqn dengan cara:

Buat plot ukuran sembarang yang dianggap memiliki keragaman tumbuhan yang mewakili area penelitian. Catat luas plot dan identifikasi jumlah spesies yang ditemukan.

Buat plot dengan ukuran 2 kali ukuran plot pertama, dan identifikasi jumlah spesiesnya. Bandingkan jumlah spesies yang ditemukan pada plot pertama dengan spesies yang ditemukan pada plot kedua. Jika jumlah penambahan psesies pada plot kedua lebih dari 10 %, lakukan prosedur ke dua dan seterusnya.

Luas minimum yang dijadikan plot pengamatan final adalah jika penambahan jumlah spesies tidak lebih dari 5 % atau 10 %.

Metode Plot ganda

Prosedurnya dilakukan dengan cara menggunakan banyak plot yang letaknya tersebar merata, dapat ditentukan dengan cara acak maupun sistematik.

Ukuran plot sangat bervariasi tergantung dari kelompok organisme yang akan diamati.

Untuk pengamatan vegetasi tumbuhan sekaligus dari kelompok pohon, sapling dan vegetasi dasar umumnya digunakan plot bersarang (Nested plot atau nested quadrat).

Metode Transek (Jalur).

Metode transek dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu: Line intercept (Line transect); Belt transect, dan Strip sensus.

Line Intercept (Line transect); Metode ini biasanya digunakan untuk mempelajari komunitas padang rumput

Belt  transect : Metode ini umumnya digunakan untuk analisis  suatu kawasan hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, tofografi dan elevasi.

Lebar transek anatar 10 – 20 m, dengan jarak antar transek 200 – 1000 m tergantung intensitas yang dikehendaki.

Contoh: untuk hutan dengan luas 10.000 ha intensitas yang digunakan 2 %, sedangkan untuk  hutan yang luasnya kurang dari 1000 ha intensitasnya 10 %.

 

Buat jalur selebar 10 atau 20 m (tergantung kebutuhan) dengan panjang transek menyesuaikan kondisi lapangan ( misal 200 – 1000 m).

Buat petak-petak kontinyu pada jalur  tersebut dengan ukuran disesuaikan lebar jalur (jika lebar jalur 10 m, maka petak berukuran 10 x 10 m). Petak yang dijadikan plot pengamatan sebaiknya posisinya berselang-seling.

Jika pengamatan untuk semua kelompok tumbuhan (pohon, pole, pancang, seedling) sebaiknya dibuat model plot bersarang (Nested plot), sedangkan jika pengamatan hanya untuk salah satu kelompok tumbuhan saja cukup dengan plot biasa yang lebarnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Metode Strip sensus: umumnya digunakan untuk  analisi vertebrata terestrial. Metode ini mirip dengan line transek, yaitu dengan cara berjalan sepanjang garis transek, dan mencatat ( mensesus) spesies yang diamati disepanjang garis transek. Datanya biasanya digunakan untuk indeks kepadatan atau indeks populasi.

METODE KUADRAN

Metode ini digunakan jika hanya vegetasi tingkat pohon yang menjadi objek penelitian. Metode ini digunakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menaksir volunenya.

Metode kuadran dibedakan atas 2 macam; Point quarter dan wandering quarter.

Point quarter: digunakan jika distribusi pohon yang akan diteliti acak (Bukan hutan dengan pengelompokan tinggi)

Wandering quarter : metode ini lebih fleksibel dapat diterapkan pada populasi pohon dengan pola distribusi acak, berkelompok ataupun seragam.