BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat di manfaatkan secara rasional. Secara langsung manfaat yang dapat dirasakan penduduk di sekitarnya adalah kayu pohon mangrove yang dipergunakan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, pembuat arang dan pulp. Selain itu hutan mangrove juga merupakan pengeksport bahan organik yang berguna tmtuk menunjang kelestarian biota akuatik (Odum & Heald, 1972). Berdasarkan segi ekologinya, hutan mangrove digunakan sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan bagi kehidupan fauna (Heald & Odum,1972; Macnae, 1974; Barnes 1974).
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi, dan pembersih air dari polutan. Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove. Dengan perkataan lain, mangrove menyediakan berbagai jenis produk dan jasa yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional, maupun nasional serta sebagai penyangga.
Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan adalah lamun, Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis lamun mempunyai beberapa fungsi penting didaerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal diseluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Oleh karena itu untuk mengetahui spesifikasi lamun maka disusunlah makalah yang membahas tentang Lamun.
Diasumsikan bahwa perbedaan dalam waktu, ada atau tidak adanya kejadian pada daerah yang tinggi pada daerah yang spesifik yang merupakan refleksi perbedaan dalam fungsi dari ekosistem lamun, misal kondisi cahaya. temperatur, salinitas. substrat dan nutrien. Perbedaan dalam fenologi antara daerah setempat dengan daerah geografi lainnya mungkin disebabkan perbedaan faktor genetik, produksi, rantai makanan, dekomposisi, toleransi tanaman dan respon terhadap gangguan. Fenologi seharusnya merupakan bagian dari studi produktifitas sejak adanya hubungan aliran energi.
B. Rumusan masalah
Permasalahan yang hendak dikaji dalam makalah ini adalah menitik beratkan pada pembagian jenis mangrove dan lamun, bagaimana pula karakteristik dari mangrove dan lamun serta bagaimana kehidupan organisme yang hidup di sekitar mangrove dan lamun.
C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui pembagian jenis dari mangrove dan lamun
2. Untuk mengetahui karakteristik dari tumbuhan mangrove dan lamun
3. Untuk mengetahui kehidupan organisme di sekitar mangrove dan lamun
D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Melatih dalam menyusun penulisan karya ilmiah.
2. Memberikan informasi mengenai mangrove dan lamun suatu perairan laut, karakter serta organisme yang ada di dalamnya.
3. Sebagai bahan acuan dalam diskusi pengembangan materi Hidrobiologi.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
A. Penegertian dan Manfaat Mangrove
Kata “mangrove” digunakan untuk menjelaskan tumbuhan yang hidup di daerah tropis pada komunitas hutan intertidal atau pada komunitas mangrove (Tomlinson, 1986). Snedaker (1978) dalam Arief (2003) memberikan pengertian yang panjang mengenai mangrove yaitu suatu kelompok jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropika dan subtropika yang terlindung dan memiliki semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob. Istilah mangrove digunakan secara luas untuk menamai tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan baik pada ekosistem hutan tropis dan subtropis pasang-surut, meliputi pantai dangkal, muara sungai, delta, rawa belakang dan laguna.
Mangrove dapat ditemukan di muara sungai, di pinggir teluk yang terlindung, di sekitar genangan air payau di pesisir pantai dan banyak juga terdapat di pulau-pulau kecil di Indonesia.
Menurut Tomlinson (1986), vegetasi mangrove tersusun atas tiga komponen, yaitu :
1. Mangrove mayor (true mangrove) memiliki sifat-sifat berikut:
a) Sepenuhnya hidup pada ekosistem mangrove di kawasan pasang surut, di antara rata ketinggian pasang perbani (pasang rata-rata) dan pasang purnama (pasang tertinggi), serta tidak tumbuh di ekosistem lain.
b) Memiliki peranan penting dalam membentuk struktur komunitas mangrove dan dapat membentuk tegakan murni.
c) Secara morfologi beradaptasi dengan lingkungan mangrove, misalnya memiliki akar aerial dan embryo vivipar.
d) Secara fisiologi beradaptasi dengan kondisi salin, sehingga dapat tumbuh di laut, karena memiliki mekanisme untuk menyaring dan mengeluarkan garam, misalnya melalui alat ekskresi.
e) Secara taksonomi berbeda dengan kerabatnya yang tumbuh di darat, setidak-tidaknya terpisah hingga tingkat genus.
Antara lain: Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Nypa fruticans, Rhizophora, dan Sonneratia.
2. Mangrove minor dibedakan oleh ketidakmampuannya untuk membentuk komponen utama vegetasi yang menyolok, jarang membentuk tegakan murni dan hanya menempati tepian habitat. Antara lain: Acrostichum, Aegiceras, Excoecaria agallocha, Heritiera littoralis, Osbornia octodonta, Pemphis acidula, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Xylocarpus.
3. Mangrove asosiasi adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, yang tidak ditemukan secara eksklusif di hutan mangrove dan hanya merupakan vegetasi transisi ke daratan atau lautan, namun mereka berinteraksi dengan true mangrove. Tumbuhan asosiasi adalah spesies yang berasosiasi dengan hutan pantai atau komunitas pantai dan disebarkan oleh arus laut. Tumbuhan ini tahan terhadap salinitas, seperti Terminalia, Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus, Casuarina, beberapa polong, serta semak Aslepiadaceae dan Apocynaceae. Ke arah tepi laut tumbuh Ipomoea pescaprae, Sesuvium portucalastrum dan Salicornia arthrocnemum mengikat pasir pantai. Spesies seperti Porteresia (Oryza) coarctata toleran terhadap berbagai tingkat salinitas. Ke arah darat terdapat kelapa (Cocos nucifera), sagu (Metroxylon sagu), Dalbergia, Pandanus, Hibiscus tiliaceus dan lain-lain. Komposisi dan struktur vegetasi hutan mangrove beragam, tergantung kondisi geofisik, geografi, geologi, hidrografi, biogeografi, iklim, tanah, dan kondisi lingkungan lainnya.

1. Jenis-Jenis Mangrove
Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizhophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda dan Conocarpus) yang termasuk ke dalam delapan famili. Dengan jumlah jenis tercatat sebanyak 202 jenis yang terdiri atas 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liliana, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas. Namun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan mangrove. Paling tidak didalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati penting/dominan yang termasuk ke dalam empat famili : Rhizophoraceae (Rhizhophora, Bruguiera dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia), Avicenniaceae (Avicennia) dan Meliaceae (Xylocarpus).
Karakteristik Masing-Masing Jenis Mangrove secara umum yakni :
a. Avicennia Alba
Berasal dari famili Avicenniaceae, mempunyai nama daerah api-api dengan nama yang biasa digunakan oleh ahli barat adalah white mangrove. Api-api umumnya tumbuh pada substrat berpasir atau berlumpur tipis dengan salinitas yang relatif tinggi. Pohonnya dapat mencapai tinggi hingga 15 m. Daun pada sisi sebelah atas berwarna hijau muda, sedangkan pada sisi sebelah bawah abu-abu keperakan berbentuk elips dengan panjang daun mencapai 10 cm. Bunga berbentuk kecil berwarna orange dan berdiameter 4-5 mm. Buah berbentuk membulat dan agak berbulu dengan panjang 2-3 cm dan berwarna hijau keabu-abuan. Kulit batang halus berwarna putih keabuan dan akar berbentuk cakar ayam
b. Rhizophore Mucronata
Berasal dari famili Rhizophoraceae, mempunyai nama daerah bakau dengan nama yang biasa digunakan oleh para ahli adalah black mangrove. Bakau merupakan jenis mangrove yang umum dijumpai karena penyebarannya yang luas. Rhizophora mueronata dapat tumbuh sampai setinggi 25 m. Daun lebar dengan panjang 10 cm, berwarna hijau pada bagian atas dan hijau muda pada bagian bawah. Daunnya tersusun dalam rumpun sampai ujung tangkai. Bunga berwarna putih dan berukuran kecil. Buah berbentuk memanjang dengan ukuran mencapai 60 cm meruncing pada bagian ujungnya. Kulit batang berwarna coklat sampai abu-abu gelap, dengan permukaan yang kasar. Akar berbentuk akar tongkat yang keluar dari batang dan memiliki lentisel untuk pernafasan.
c. Sonneratia Alba
Berasal dari famili Sonneratiaceae, mempunyai nama daerah Gogem. Sonneratia alba termasuk jenis mangrove yang sering dijumpai. Dapat tumbuh mencapai 15 m. Daun berbentuk bulat dan berpasangan pada cabangnya dengan panjang mencapai 7 cm. Pada bagian ujung daun agak melengkung ke bawah. Bunga berwarna putih. Buah agak besar dengan lebar 4 cm, berwarna hijau, keras dan dengan bentuk seperti bintang. Kulit batang berwarna abu-abu sampai coklat dan agak retak-retak dan akar berbentuk cakar ayam.
Formasi mangrove merupakan perpaduan antara daratan dan lautan. Mangrove tergantung pada air laut (pasang) dan air tawar sebagai sumber makanannya serta endapan debu (sedimentasi) dari erosi daerah hulu sebagai bahan pendukung substratnya. Air pasang memberi makanan bagi hutan dan air sungai yang kaya mineral memperkaya sedimen dan rawa tempat mangrove tumbuh. Dengan demikian bentuk hutan mangrove dan keberadaannya dirawat oleh kedua pengaruh darat dan laut.
Pembagian zonasi kawasan mangrove yang dipengaruhi adanya perbedaan penggenangan atau perbedaan salinitas meliputi :
1. Zona garis pantai, yaitu kawasan yang berhadapan langsung dengan laut. Lebar zona ini sekitar 10-75 meter dari garis pantai dan biasanya ditemukan jenis Rhizophora stylosa, R. mucronata, Avicennia marina dan Sonneratia alba.
2. Zona tengah, merupakan kawasan yang terletak di belakang zona garis pantai dan memiliki lumpur liat. Biasanya ditemukan jenis Rhizophora apiculata, Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, B. parviflora, B. sexangula, Ceriops tagal, Aegiceras corniculatum, Sonneratia caseolaris dan Lumnitzera littorea.
3. Zona belakang, yaitu kawasan yang berbatasan dengan hutan darat. Jenis tumbuhan yang biasanya muncul antara lain Achantus ebracteatus, A. ilicifolius, Acrostichum aureum, A. speciosum. Jenis mangrove yang tumbuh adalah Heritiera littolaris, Xylocarpus granatum, Excoecaria agalocha, Nypa fruticans, Derris trifolia, Osbornea octodonta dan beberapa jenis tumbuhan yang biasa berasosiasi dengan mangrove antara lain Baringtonia asiatica, Cerbera manghas, Hibiscus tiliaceus, Ipomea pes-caprae, Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Pongamia pinnata, Scaevola taccada dan Thespesia populnea.
Distribusi mangrove yaitu dimana mangrove diperkirakan berasal dari Indonesia-Malaysia, kawasan pusat biodiversitas mangrove dunia. Spesies ini terbawa arus laut ke seluruh pantai daerah tropis dan subtropis dunia, pada garis lintang 25o LU dan 25o LS, karena propagulnya dapat mengapung. Dari kawasan Indonesia-Malaysia, mangrove tersebar ke barat hingga India dan Afrika Timur, serta ke timur hingga Amerika dan Afrika Barat. Penyebaran mangrove dari pantai barat Amerika ke laut Karibia, terjadi pada jaman Cretaceous atas dan Miocene bawah, antara 66-23 juta tahun yang lalu, melewati selat yang kini menjadi tanah genting negara Panama. Penyebaran ke timur diikuti penyebaran ke utara hingga Jepang dan ke selatan hingga Selandia Baru. Sehingga sebagai perkecualian, mangrove ditemukan di Selandia Baru (38o LS) dan Jepang (32o LU). Cara dispersal propagul di atas menyebabkan mangrove di Amerika dan Afrika Barat (Atlantik) memiliki luas dan keragaman lebih rendah, karena harus melewati Samudera Pasifik, sedangkan mangrove di Asia, India, dan Afrika Timur memiliki keragaman lebih tinggi. Sehingga mangrove di dunia terbagi menjadi dua kawasan utama, yaitu Indonesia-Pasifik Barat yang meliputi Asia, India dan Afrika Timur, serta Amerika – Afrika Barat. Mangrove dari kawasan Indonesia-Pasifik Barat sangat terkenal dan beragam, terdiri lebih dari 40 spesies, sedangkan di Atlantik hanya sekitar 12 spesies.
Ada kira-kira 70 species mangrove sejati (komponen mayor dan minor). Empat puluh spesies dapat ditemukan di Asia Tenggara (15 spesies terdapat di Africa dan 10 spesies terdapat di America). Menurut Soemodihardjo (1993), ada 15 famili, 18 genus dan 41 spesies dari true mangrove dan 116 rekanan mangrove di Indonesia. Jumlah mangrove di Indonesia menurun sangat cepat karena dipengaruhi oleh pengunaan lahan dan sumberdaya yang berlebihan yang diakibatkan oleh peningkatan populasi di kawasan pantai.
Karakteristik morfologi yang menarik dari species mangrove dapat dilihat dari sistem perakarannya dan buah. Tanah pada habitat mangrove adalah anaerobik (hampa udara) bila berada di bawah air. Beberapa species memiliki sistem perakaran khusus yang disebut akar udara yang cocok untuk kondisi tanah yang anaerobik. Ada beberapa tipe perakaran yaitu: akar tunjang, akar napas, akar lutut, dan akar papan baner. Semua species mangrove memproduksi buah yang biasanya disebarkan melalui air. Ada beberapa macam bentuk buah, seperti berbentuk silinder, bulat dan berbentuk kacang.
1. Benih Vivipari Umumnya terdapat pada family Rhizophoraceae, buahnya berbentuk silinder.
2. Benih Cryplovivipari Umumnya terdapat pada family Avicennia (Seperti buah kacang), Aegeceras (Sikunder) dan Nypa fruticans, yang buahnya berbentuk Cryplovivipoarious dimana bibitnya berkecambah tetapi diliputi oleh selaput buah sebelum dilepaskan atau ditinggalkan dari pohon induknya
3. Benih Normal Ditemukan pada species Sonneratia dan Xylocarpus. Buahnya berbentuk bulat seperti bola dengan benih normal. Species lain kebanyakan buahnya berbentuk kapsul. Sebagai benih normal, buah tersebut mengalami proses dimana mereka memecahkan diri dan menyebarkan benihnya pada saat mencapai air.
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.(Wikipedia, 2011)
Reproduksi tumbuhan mangrove terjadi secara seksual, yakni dengan adanya bunga berkelamin satu maupun poligami, sehingga memerlukan serangga, burung atau angin untuk membantu penyerbukan. Dalam kondisi habitat yang berat seperti diterangkan di atas, sangat sulit bagi tumbuhan mangrove untuk berkembangbiak sebagaimana tumbuhan darat biasa. Suatu penyesuaian perkembangbiakannya adalah yang disebut viviparitas (viviparity), yakni bahwa bijinya tumbuh menjadi tumbuhan muda selagi masih melekat pada tumbuhan induknya. Saat lepas dari induknya ia akan menancap pada substrat dengan hipokotil (hypocotyl) yang seperti paku tajam. Adaptasi semacam ini terdapat pada kebanyakan jenis mangrove seperti Rhizophora sp., Bruguiera sp., Ceriops sp., dll. (Romimohtarto, 2001).
Mangrove memiliki beberapa adaptasi dalam menghadapi kondisi lingkungan yang ekstrim. Daerah intertidal yang memiliki fluktuasi suhu, salinitas dan pasang surut yang berubah-ubah pada periode berbeda membuat adaptasi mangrove lebih kuat terhadap perubahan lingkungan tersebut.
Suplai oksigen ke akar sangat penting bagi pertumbuhan dan penyerapan nutrien. Karena tanah mangrove seringkali anaerob, maka beberapa tumbuhan mangrove membentuk struktur khusus pneumatofora (akar napas). Menurut Kustanti (2011), untuk mengatasi kadar garam oksigen yang rendah mangrove memiliki perakaran yang khas. Akarnya yang berbentuk seperti cakar ayam, pasak, tunjang dan banir adalah cara untuk mengambil oksigen dari udara yang mempunyai lentisel.
Bentuk-bentuk akar tersebut merupakan hasil proses adaptasi pohon terhadap lingkungannya sehingga hubungan antara akar dan udara tetap terlaksana dengan baik dan fungsi akar sebagai organ pengambil zat-zat makanan dari dalam tanah tetap berlangsung. Namun, menurut Arief (2003) bahwa dengan melakukan usaha adaptasi menggunakan bentuk-bentuk perakaran, tidak semua jenis mampu hidup dan berkembang untuk seterusnya, khususnya bagi anakan-anakan yang hidup di bawah induk atau yang tersebar jauh dari induknya.
Terhadap kadar garam tinggi, mangrove memiliki sel-sel khusus pada daunnya yang berfungsi untuk menyimpan garam, berdaun tebal dan kuat untuk mengatur keseimbangan garam. Daun yang memiliki stomata khusus untuk mengurangi penguapan. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa jenis yang membentuk kristal garam halus pada permukaan daunnya (Tomlinson, 1986).
Komunitas mangrove memiliki rentang toleransi yang luas terhadap garam, mulai dari halofit sejati yang sangat tahan hingga glikofit yang sangat rentan. Salinitas dipengaruhi oleh aliran pasang surut dan musim (Goldman dan Horne, 1983) dalam (Setyawan 2002). Pertumbuhan mangrove dipengaruhi oleh salinitas sedimen dan dibatasi oleh sifat hipersalinnya, namun demikian mangrove mendiami daerah pantai dengan kisaran salinitas yang besar. Menurut Giesen et al. (2007), beberapa jenis mangrove memiliki toleransi yang besar seperti Sonneratia caseolaris, dapat ditemukan di daerah yang masih terkena pasang surut dengan salinitas hampir sama dengan air tawar.
Selain itu, mangrove memiliki batas toleransi terhadap pasang surut. Di Asia Tenggara, daerah yang digenangi pada waktu pasang tertinggi didominasi oleh Avicennia alba, Avicennia marina atau Sonneratia alba, sedangkan daerah yang hanya digenangi sebagian air pasang tertinggi didominasi oleh jenis Rhizophora. Mangrove yang digenangi air pasang normal didominasi spesies Bruguiera, Xylocarpus granatum (Giesen et al. 2007).
Pertumbuhan mangrove juga dipengaruhi oleh tipe substrat. Tipe substrat seperti liat berdebu juga faktor penunjang terjadinya proses regenerasi. Partikel debu dan partikel liat yang berupa lumpur menangkap buah mangrove yang jatuh karena sudah masak (Arief, 2003).
Ruang lingkup sumberdaya mangrove secara keseluruhan terdiri atas: (1) satu atau lebih spesies tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat mangrove, (2) spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove, (3) biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove, (4) proses-proses alamiah yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya, dan (5) daratan terbuka/hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut.
Mangrove merupakan kelompok tumbuhan yang memeiliki banyak jenis sehingga mengrove dapat diartikan sebagai kelompok tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis dari suku yang berbeda-beda namun memiliki kesamaan adaptasi morfologi dan fisiologi.
Fungsi ekosistem mangrove :
Secara ekologi yaitu antara lain sebagai berikut:
 Sebagai daerah mencari makan, daerah asuhan, dan sebagai daerah perlindungan bagi beragam biota perairan.
 Sistem perakarannya yang ekstensif mampu menahan sedimen dan lumpur sehingga mampu mencegah terjadinya pendangkalan pada suatu perairan, dan membantu mengendapkan partikel-partikel tersuspensi sehingga kualitas perairan tetap terpelihara.
 Menjadi ekosistem penyangga, bagi dua ekosistem utama wilayah pesisir lainnya yaitu ekosistem lamun dan ekosistem karang
Menghasilkan sejumlah besar zat hara terlarut yang berasal dari daun, kulit, batang, buah, dan ranting mangrove serta sebagai pemasok larva ikan, udang dan biota lainnya
 Menahan abrasi, amukan angin, topan, dan gelombang tsunami serta mampu menyerap limbah dan mencegah instrusi air laut kedalam air tanah sehingga kamunitas masyarakat pesisir dapat terhindar dari akibat buruk peristiwa tersebut.
Secara ekonomi, mangrove berperan sebagai berikut:
1. Bahan bakar
2. Bahan dasar konstruksi
3. Perlengkapan penangkapan ikan dan perlengkapan rumah tangga
4. Bahan dasar tekstil dan kertas
5. Makanan, minuman dan obat-obatan
2. Karakteristik ekosistem mangrove
a. Tanah
Tanah dalam pengertian habitat Pada ekosistem mangrove adalah lingkungan baur yang dibentuk oleh pertemuan antara lingkungan marin dengan darat, dikenal juga sebagai rawa garaman, rawa payau, intertidal zone, intertidal flat. Jenis tanah yang berada di bawahnya termasuk tanah perkembangan muda (saline young soil) yang mempunyai kandungan liat yang tinggi dengan nilai kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation yang tinggi. Kandungan bahan organik, total nitrogen, dan ammonium termasuk kategori sedang pada bagian yang dekat laut dan tinggi pada bagian arah daratan. Bersifat dinamis karena hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang terus serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh alaminya. Dikatakan labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali seperti sediakala.
Secara alami hutan mangrove membentuk suatu zonasi, daerah yang dekat dengan laut dan substrat agak berpasir sering ditumbuhi oleh Avicennia sp. Pada zona ini berasosiasi sonneration sp. Yang dominan tumbuhan pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. Kemudian kearah darat diikuti oleh zona Rhizopora sp. , Bruguiera sp. Dan Xylocarpus sp. Zona berikutnya didominasi oleh Burguiera sp. Zona terakhir dari hutan mangrove di dominasi oleh nyipa fruticans dan beberapa spesies palem, zona ini juga merupakan zona teransisi ke hutan dataran rendah.

Gambar zonasi pada mangrove
Untuk tempat habitatnya setiap jenis mangrove secara umum yaitu :
1. Tipe api-api(Avicennia sp)
Paling dekat dengan air laut, merupakan mangrove parintis. Substratnya berlumpur, kadang-kadang berpasir dan kaya akan bahan organic. Contoh bakau jenis ini adalah Avicennia marina dan Avecennia officinellis.
2. Tipe bakau (Rhizopora sp)
Hidup didekat pantai atau di belakang Avicennia, substrat berlumpur tetapi warnanya lebih pekat dan kaya akan humus, kadang lumpur berpasir. Jenis yang paling bisa hidup di dekat laut adalah bakau gandul (Rhizopora mucronata). Jenis lain yang masih termasuk dalam kerabat Rhizopora antara lain Ceriops, Bruguiera, dan Acanthus.
3. Tipe kandeka (Bruguiera sp)
Lingkungan hidupnya berada di belakang dari tumbuhan bakau jenis Ceriops, mampu tumbuh dengan umur yang panjang dan lebih bisa beradaptasi dengan wilayah darat, substrat berlumpur tetapi tidak begitu dipengaruhi oleh factor pasang surut.
4. Tipe nipah (Nypa fruticans)
Bakau jenis ini sudah mampu untuk tumbuh di tanah lunak berlumpur, merupakan tipe peralihan dari laut ke darat dan dapat cepat beradaptasi dengan kondisi salinitas tinggi atau pada daerah genangan air tawar. Contoh tumbuhan ini adalah Sonneratia alba.
5. Tipe hutan bakau air tawar
Hanya dipengaruhi oleh air musim di mana pada musim barat daerah ini tergenang oleh air. Sedangkan pada musim timur kering. Bakau jenis ini tidak dipengaruhi oleh pasang surut. Substratnya berupa tanah keras. Contoh tumbuhan ini adalah Callophyllum sp, Hibiscus sp, dan Terminalia sp.
b. Salinitas
Bagi kebanyakan pohon-pohon mangrove dan fauna penggali liang dalam tanah, salinitas air pasang mungkin kurang penting dibandingkan dengan salinitas air tanah. Salinitas air tanah umumnya lebih rendah dibandingka dengan air pasang diatasnya, hal ini disebabkan karena terjadinya pengenceran oleh air tawar (hujan) yang merembes ke dalam tanah. Bagi akar-akar pohon dan fauna penggali lubang, faktor terpenting bukan hanya kadar NaCl tetapi tekanan osmotik. Salinitas bervariasi dari hari ke hari dan dari musim ke musim. Selama siang hari salinitas lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan. Demikian pula pada musim pasang, salinitas akan turun dan cenderung untuk naik bila surut kembali.
Hutan mangrove biasanya dikenal sebagai hutan panti, hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau. Mangrove biasa juga disebut sebagai farmasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung. Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh terutama pada tanah lumpur alluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Pada pantai yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut yang kuat, mangrove sulit atau tidak dapat tumbuh, karena kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur sebagai substrat yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Hutan mangrove juga merupakan hutan khas tropis yang penyebarannya dibatasi pada letak lintang, karena vegetasi ini sangat sensitive terhadap suhu dingin.
Vegetasi mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti kondisi tanah yang kurang stabil daya adaptasi tersebut meliputi :
a. Perakaran yang pendek dan menyebar luas, dengan akar penyangga atau tundung akar yang tumbuh dari batang dan dahan sehingga menjamin kokohnya batang
b. Memiliki daun yang kuat dan mengandung banyak air
c. Mempunyai jaringan internal menyimpan air dengan kosentrasi garam yang tinggi, beberapa jenis mangrove mempunyai kelenjar garam yang menolong menjaga keseimbangan osmotik dengan mengeluarkan garam
d. Adanya sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya
e. Beberapa jenis berkembang biak dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih dipohon induknya (viviper).
Kelestarian hutan mangrove dipengaruhi oleh 3 parameter lingkungan utama, yaitu 1) suplai air tawar dan salinitas, 2) pasokan nutrient, dan 3) stabilitas substrat. Meskipun mangrove mampu beradaptasi pada kondisi salinitas yang ekstrim namun suplai air tawar tetap diperlukan untuk mengendalikan efisiensi metabolik dari ekosistem hutan mangrove. Pasokan nutrien bagi daerah mangrove ditentukan oleh berbagai proses yang saling terkait, meliputi : imput dari ion-ion mineral anorganik dan bahan organik serta pendaur ulangan nutrient secara internal melalui rantai dan jaringan makanan berbasis detritus. Stabilitas substrat memiliki arti penting bagi spesies hutan mangrove untuk menahan akibat yang menimpa ekosistemnya.
3. Jenis-Jenis Biota yang Berasosiasi dengan Hutan Mangrove
Organisme yang hidup pada hutan mangrove dibedakan menjadi kelompok Mikroorganisme dan Makroorganisme.
 Mikroorganisme, Bakteri yang hidup pada substrak dasar di hutan mangrove berperan dalam proses perubahan senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Proses ini dinamakan proses mineralisasi.
 Hewan darat yang berasosiasi dengan hutan mangrove seperti burung, kera berekor panjang ( Macaca fascicularis), ular, buaya, dan biawak.
 Hewan Laut
Hewan laut yang hidup dihutan mangrove dapat digolongkan menjdai 3 (tiga) golongan yaitu:
1. Golongan hewan yang hidup pada substrak keras (pada akar-akar bakau dan didaun bakau) seperti tiram (Crassostrea cucullata), siput ( Littoraria sp), keong (Cassidulu sp).

2. Golongan hewan yang hidup didalam lumpur seperti Polymesoda expansa ( bahasa daerahnya kalandue atau kaboii), Telescopium sp (bahasa daerahnya burungo

3. Golongan hewan yang hidup merayap dan juga meliang seperti ikan glodok (Periophthalmus sp), kepiting Varuna yui, kepiting Uca sp, dan udang (Alpheis sp.) yang pada waktu surut air surut, udang ini terdengar mengeluarkan suara seperti letusan pistol sehingga disebut udang peletok.

4. Faktor-faktor lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mangrove
a. Salinitas
Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya, sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya.
b. Tanah
Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur, terutama di daerah endapan lumpur terakumulasi. Di Indonesia substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata dan Avicennia marina (Kint, 1934). Jenis tanah yang mendominasi kawasan mangrove biasanya adalah fraksi lempeng berdebu, akibat rapatnya bentuk perakaran-perakaran yang ada. Fraksi lempung berpasir hanya terdapat dibagian depan (arah pantai). Nilai pH tanah dikawasan mangrove berbeda-beda, tergantung pada tingkat kerapatan vegetasi yang tumbuh dikawasan tersebut. Jika kerapatan rendah, tanah akan mempunyai nilai pH yang tinggi. Nilai pH tidak banyak berbeda, yaitu antara 4,6-6,5 dibawah tegakan jenis Rhizophora sp. Hutan mangrove tanahnya selalu basah, mengandung garam, mempunyai sedikit oksigen dan kaya akan bahan organik. Bahan organik yang terdapat di dalam tanah, terutama berasal dari sisa tumbuhan yang diproduksi oleh mangrove sendiri. Serasah secara lambat akan diuraikan oleh mikroorgansme, seperti bakteri, jamur dan lainnya. Selain itu juga terjadi sedimen halus dan partikel kasar, seperti potongan batu dan oral, pecahan kulit kerang dan siput. Biasanya tanah mangrove kurang membentuk lumpur berlempung dan warnanya bervariasi dari abu-abu muda sampai hitam
c. Cahaya
Cahaya adalah salah satu faktor yang penting dalam proses fotosintesis dalam melakukan pertumbuhan tumbuhan hijau. Cahaya mempengaruhi respirasi, transpirasi, fisiologi dan juga sruktur fisik tumbuhan. Intensitas cahaya, di dalam kualitas dan juga lama penyinaran juga merupakan satu faktor penting untuk tumbuhan. Umumnya tumbuhan di ekosistem mangrove juga membutuhkan intensitas tinggi.
d. Suhu
Pada Rhizophora sp., Ceriops sp., Exocoecaria sp. dan Lumnitzera sp., laju tertinggi produksi daun baru adalah pada suhu 26-28 ºC, untuk Bruguiera sp adalah 27ºC dan Avicennia marina memproduksi daun baru pada suhu 18-20 ºC.
e. Pasang Surut
Pasang surut menetukan zonasi komunitas flora dan fauna mangrove. Durasi pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas pada areal mangrove. Salinitas air menjadi sangat tinggi pada saat pasang naik dan menurun selama pasang surut. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor yang membatasi distribusi jenis mangrove. Pada areal yang selalu tergenang hanya Rhizophora mucronata yang tumbuh baik, sedangkan Bruguiera spp dan Xylocarpus sp. jarang mendominasi daerah yang sering tergenang. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa antara air tawar dengan air laut, dan oleh karenanya mempengaruhi organisme mangrove.
5. Penyebab Berkurangnya Jumlah Mangrove Di Pesisir Pantai
1. Faktor alam
Keadaan alam sangat mempengaruhi pertumbuhan Mangrove adapun faktor alam yang mempengaruhinya yaitu :
a. Abrasi
Abrasi pada dasarnya merupakan gangguan alam yang dapat merusak sistem tanah pada perakaran tumbuhan mangrove yang pada akhirnya menjadikan pengikatan akar tumbuhan mangrove yang tidak kokoh terhadap tanah yang ditempatinya, dan pada akhirnya tumbuhan mangrove tersebut menjadi rebah.
b. Angin
Angin merupakan gangguan alam yang dapat mematahkan sebagian batang dan ranting timbuhan mangrove bahkan mampu merobohkan tumbuhan mangrove. Namun pengaruh angin terhadap petumbuhan mangrove masih tergolong kecil terhadap perkembangannya, karena angin ini tidak selamanya angin kencang.
c. Kelembaban
Kelembaban juga berpengaruh terhadap pertumbuhan mangrove, dimana suatu tumbuhan memiliki batas kemampuan tumbuh terhap kondisi kelembaban yang ada, dimana tumbuhan hanya mampu tumbuh pada kelembaban yang optimum, artinya bahwa ketika kelembaban ekstrim maka tumbuhan perlahan-lahan akan mati.

2. Faktor manusia
Kerusakan lingkungan dipesisir pantai karena campur tangan manusia antara lain pembangunan pemukiman, pertamabakan(pengelolaan empang) yang berlebihan, pembuangan sampah dipesisir pantai.
6. Dampak Kerusakan Hutan Mangrove Terhadap Kawasan Pesisir Pantai
a. Segi Ekologis
Kurangnya populasi bakau (Rhizophora sp.) di kawasan tersebut sangatlah berpengaruh terhadap ekosistem pesisir pantai, sebab bakau merupakan komponen biotik utama pada ekosistem pesisir pantai atau semi daratan. Dampak lain yang di timbulkan dari kerusakan bakau (Rhizophora sp.) tersebut adalah pengikisan batuan yang menjadi bahan timbunan perumahan warga, sehingga berpotensi untuk menimbulkan abrasi.
Gambar keberadaan tumbuhan Mangrove di pesisir

b. Segi Ekonomis
Kurangnya populasi bakau dan rusaknya sebagian bakau yang baru ditanam menyebabkan kerapatan biota laut di kawasan tersebut semakin berkurang. Berkurangnya kerapatan biota laut akibat rusaknya ekosistem bakau memberikan pengaruh besar terhadap aktifitas warga mencari ikan dan biota laut lainnya disekitar pesisir pantai sehingga mereka mencari ikan dilokasi yang sangat jauh dari pesisir.
7. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan Mangrove di Kawasan Pesisir Pantai
a. Pendidikan dan Penyuluhan
Pendidikan melalui lembaga formal dapat dilakukan dengan membuat muatan lokal tentang hutan mangrove salah satunya yaitu bakau (Rhizophora sp.) yang sesuai dengan potensi daerah, utamanya sekolah-sekolah di wilayah pesisir.
b. Administratif
Upaya ini dilakukan oleh pemerintah dengan cara mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam bentuk Perda untuk mencegah kerusakan mangrove dan memberikan sanksi tegas terhadap oknum-oknum yang merusak ekosistem mangrove. Upaya ini dilakukan sebagai kepedulian pemerintah terhadap lingkungan karena pemerintah juga harus menjaga wilayah pesisir pantai.
c. Konservasi
Upaya ini dilakukan dengan cara menetapkan wilayah pesisir sebagai kawasan konservasi. Perlindungan bagi kawasan ini diupayakan untuk mengembalikan ekosistem Mangrove pada kondisi alami menuju ekosistem yang seimbang. Cara ini juga dapat dilakukan dengan mengadakan reboisasi pada wilayah yang mengalami kerusakan. Untuk mempercepat rehabilitasi, pemerintah harus secara tegas menetapkan batas wilayah yang menjadi lahan konservasi, agar wilayah ini di isolasi dari kegiatan manusia. Untuk melaksanakn upaya ini, pemerintah dapat melakukan transmigrasi lokal bagi masyarakat yang bermukim di tempat tersebut pada wilayah daratan sehingga masyarakat masih bisa mencari nafkah di laut.
B. Morfologi dan Jenis-Jenis Lamun
Bentuk vegetatif lamun memperlihatkan karakter tingkat keseragaman yang tinggi. Hampir semua genera memiliki rhizoma yang sudah berkembang dengan baik dan bentuk daun yang memanjang (linear) atau berbentuk sangat panjang seperti ikat pinggang (belt), kecuali jenis Halophila memiliki bentuk lonjong. Berbagai bentuk pertumbuhan tersebut mempunyai kaitan dengan perbedaan ekologik lamun (den Hartog, 1977). Misalnya Parvozosterid dan Halophilid dapat dijumpai pada hampir semua habitat, mulai dari pasir yang kasar sampai limpur yang lunak, mulai dari daerah dangkal sampai dalam, mulai dari laut terbuka sampai estuari. Magnosterid dapat dijumpai pada berbagai substrat,tetapi terbatas pada daerah sublitoral sampai batas rata-rata daerah surut. Secara umum lamun memiliki bentuk luar yang sama, dan yang membedakan antar spesies adalah keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif. Menjadi tumbuhan yang memiliki pembuluh, lamun juga memiliki struktur dan fungsi yang sam adengan tumbuhan darat yaitu rumput. Berbeda dengan rumput laut (marinealga/seaweeds), lamun memiliki akar sejati, daun, pembuluh internal yangmerupakan sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.
Padang lamun merupakan salah satu komunitas yang paling produktif, selain hutan mengrove dan terumbu karang pada perairan pesisir pantai. Sejak tahun 1950-an, daerah yang tertutup oleh padang zosterasa marina telah merosot akibat popolasi, reklamasi dan urbanisasi disekeliling pantai (komatus, 1996). Laporan ynag sama telah dipublikasikan oleh short. et al ( 1996) bahwa peningkatan input antropogenik ke zona pesisir pantai ada kaitannya dengan kehilangan pandangan lamun. Jika ditinjau dari fungsi ekologisnya, padang lamun dapat berperan sebagai stabilisator sedimen karena mampu melindungi terumbu karang dari sedimentasi dengan ciri khas akar rizomanya. Padang lamun juga dapat berperan sebagai filtrasi air serta pendukung utama kehidupan perikanan dan unggas air dipesisir pantai. Padang lamun mampu mengambil nutrien melalui daun serta sistem akarnya, dan pada umumnya di daerah tropis kosentrasi nutrien terlalu dalam air laut agak rendah (sering dibawah batas yang dapat di deteksi), sementara kosentrasi air poros dalam sedimen biasanya sangat tinggi. Pengambilan nutrien dari kolom air oleh daun lamun dapat dianggap tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan pengambilan nuterien oleh akar dari sedimen.
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti banyak tumbuhan darat. Dan klasifikasi lamun adalah berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda sehingga pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi.
Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut.
Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut. Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Lamun juga memiliki karakteristik tidak memiliki stomata, mempertahankan kutikel yang tipis, perkembangan shrizogenous pada sistem lakunar dan keberadaan diafragma pada sistem lakunar. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air.
Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal. Lamun didefinisikan sebagai tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Lamun juga mengikuti irama musim. Saat-saat bersemi, berbunga dan berbuah terjadi pada bulan-bulan tertentu. Tidak banyak informasi yang didapat tentang waktu berbunga, berbuah dan sebaran biji. Lamun tropika mulai berbunga pada akhir april dan berlanjut sampai akhir agustus di Filipina. Proses ini berhubungan langsung dengan perkembangan panjang siang, suhu dan curah hujan. Sebaliknya pertumbuhan, biomassa dan produksi berhubungan terbaik dengan perkembangan faktor-faktor di atas. Saat berbuah terjadi pada setengah masa terakhir dari masa berbunga dengan puncaknya terjadi pada bulan juli, saat panjang siang dan curah hujan mencapai harga tertinggi. Oleh karena lamun ini tumbuh di bawah air, bunganya dipolinasi didalam air melalui bantuan arus. Serbuk sari seperti benang terdapat padat didekat air dan karenanya mudah terangkut air. Lamun tumbuh bertahun-tahun,rimpangnya tumbuh memanjang dan membentuk pasangan-pasangan daun dan akar baru. Sistem Reproduksi lamun sebenarnya dapat dilakukan secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dengan membentuk stolon, secara seksual dengan hidrophilus. Dalam sistem reproduksinya, lamun beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut termasuk juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air. Dengan melakukan polinasi berati lamun adalah tumbuhan yang memiliki bunga, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti banyak tumbuhan darat. Lamun memiliki dua bentuk pembungaan, yakni monoecious (dimana bunga jantan dan betina berada pada satu individu) dan dioecious (dimana jantan dan betina berada pada individu yang berbeda). Peyerbukan terjadi melalui media air (penyerbukan hydrophyllous). Meskipun lamun adalah tanaman berbunga dan menghasilkan biji melalui reproduksi seksual, modus utama adalah reproduksi aseksual, melalui perpanjangan dari bagian bawah tanah, berupa rhizome.
Zonasi lamun secara vertikal sebagai berikut:
1. Zona intertidal, dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia.
2. Zona intertidal bawah, didominasi oleh Thalassodendron ciliatum.
Komunitas lamun biasanya ada dalam area yang luas dan rapat. Secara umum komunitas lamun dibagi menjadi 3 asosiasi spesies sehingga membentuk suatu zonasi lamun (Brouns dan Heijs, 1991), yaitu:
1. Padang lamun monospesifik (monospesifik seagrass beds). Hanya terdiri dari 1 spesies saja. Akan tetapi keberadaannya hanya bersifat temporal dan biasanya terjadi pada phase pertengahan sebelum menjadi komunitas yang stabil (padang lamun campuran).
2. Asosiasi 2 atau 3 spesies ini merupakan komunitas lamun yang terdiri dari 2 sampai 3 spesies saja. Dan lebih sering dijumpai dibandingkan padang lamun monospesifik.
3. Padang lamun campuran (mixed seagrass beds). Padang lamun campuran umumnya terdiri dari sedikitnya 4 dari 7 spesies berikut: Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii. Tetapi padang lamun campuran ini, dalam kerangka struktur komunitasnya, selalu terdapat asosiasi spesies Enhalus acoroides dengan Thalassia hemprichii (sebagai spesies lamun yang dominan), dengan kemelimpahan lebih dibanding spesies lamun yang lain.
1. Karakteristik Fisika dan Kimia Pada Lamun
a. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap ekosistem lamun. Suhu juga menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan distribusi lamun. Perubahan suhu mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup. Pada kisaran suhu 25 – 30°C fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, kisaran 5 – 35°C. produktivitas lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, pada kisaran suhu 10 – 35 °C
lamun dan organisme lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Serasah daun lamun ini merupakan sumber bahan organik yang penting bagi perairan tropis yang dikenal miskin akan unsur hara. Kematian massal dari daun lamun, yang berguguran atau lepas saat surut terendah, akan memicu lamun untuk segera menumbuhkan daun yang baru. Dengan demikian, suhu berperan penting dalam regenerasi lamun. Suhu memiliki pengaruh yang besar terhadap komunitas makrozoobentos saat surut rendah. Paparan cahaya matahari di permukaan substrat yang terekspose akan meningkatkan suhu lingkungan. Hewan bentos (epifauna) seperti bulu babi
akan bereaksi mencari perlindungan dengan bergerak menuju kolam-kolam kecil yang masih terisi air atau bersembunyi di balik bongkahan batu karang. Jenis bulu babi Tripneustes gratilla akan membungkus permukaan tubuhnya yang berduri pendek dengan serasah dan daun lamun. Jenis kerang akan menutup cangkangnya lebih rapat. Spesies infauna akan membenamkan diri lebih dalam di bawah permukaan substrat.
b. Salinitas
Lamun diketahui memiliki kisaran toleransi yang besar terhadap salinitas. Perubahan gradien salinitas umumnya terjadi di daerah estuaria atau muara sungai yang menjadi tempat bertemunya air tawar dengan air laut. Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 permill . Salinitas berpengaruh terhadap produktivitas, kerapatan, dan lebar daun. Untuk makrozoobentos, salinitas yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi tekanan osmosis dalam sel dan menghambat proses fisiologis.
c. Kekeruhan
Kekeruhan mempengaruhi kehidupan lamun karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan untuk berfotosintesis. Kekeruhan disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi. Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas.
d. Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal hingga mencapai kedalaman 30 m. kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun.
e. Nutrien
Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun. Penyerapan nutrien dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun.
f. Substrat
Lamun hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan batu karang. Tipe substrat juga mempengaruhi standing crop lamun. Selain itu rasio biomassa di atas dan dibawah substrat sangat bervariasi antar jenis substrat.
2. Jenis-jenis Lamun dan penyebarannya di Indonesia
Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili: (1) Hydrocharitaceae, dan (2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan Thallassodendron ciliatum. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang juga cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam biota laut (Gambar 17), seperti ikan, krustasea, moluska (Pinna sp., Lambis sp., Strombus sp.), Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Archaster sp., Linckia sp.), dan cacing Polikaeta.
Lamun termasuk dalam subkelas Monocotyledonae dan merupakan tumbuhan berbunga (kelas Angiospermae). Secara lengkap klasifikasi beberapa jenis lamun menurut (Phillips dan Menez,1988) adalah sebagai berikut :
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Potamogetonacea
Subfamili : Zosteroideae
Genus : Zostera , Phyllospadix, Heterozostera
Subfamili : Posidonioideae
Genus : Posidonia
Subfamili : Cymodoceoideae
Genus : Halodule, Cymodoceae, Syringodium, Amphibolis, Thalassodendron
Famili : Hydrocharitaceae
Subfamili : Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus
Subfamili : Thalassioideae
Genus : Thalassia
Subfamili : Halophiloideae
Genus : Halophila

Gambar jenis-jenis Lamun di Indonesia
Cymodocea rotundata
Local: Settu
English: Round tippes seagrass
Salah satu spesies dominan di mintakat intertidal; salah satu spesies pionir;
diketahui sebagai makanan duyung di Kawasan Timur Indonesia
Cymodocea serrulata
Local: Settu
English: Toothed seagrass
Enhalus acoroides
Local: Settu pita
English: Tropical eelgrass
Halophila decipiens
Local: Settu kelor
English: Veinless spoon-grass
Halophila minor
Local: Settu
English: Small spoon-grass
Halophila ovalis
Local: Settu kelor
English: Spoon-grass
Halodule pinifolia
Local: Settu kawat
English: Fiber-strand seagrass
Halophila spinulosa
Local: Settu pakis
English: Curled-base spoon-grass
Halodule uninervis
Local: Settu kawat
English: Fiber-strand seagrass
Syringodium isoetifolium
Local: Settu
English: Syringe grass
Thalassodendron ciliatum
Local: Settu kipas
English: Woody seagrass
Thalassia hemprichii
Local: Settu
English: Dugong grass

Tumbuhan lamun terdiri dari akar rhizome dan daun. Rhizome merupakan batang yang terpendam dan merayap secara mendatar dan berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas, berdaun dan berbunga. Pada buku tumbuh pula akar (Nontji,1993). Lamun memiliki daun-daun tipis yang memanjang seperti pita yang mempunyai saluran-saluran air (Nybakken, 1992). Bentuk daun seperti ini dapat memaksimalkan difusi gas dan nutrien antara daun dan air, juga memaksimalkan proses fotosintesis di permukaan daun (Philips dan Menez, 1988)
Daun menyerap hara langsung dari periran sekitarnya, mempunyai rongga untuk mengapung agar dapat berdiri tegak di air, tapi tidak banyak mengandung serat seperti tumbuhan rumput di darat (Hutomo,1997). Sebagian besar lamun berumah dua,artinya dalam satu tumbuhan hanya ada jantan saja atau betina saja. Sistem pembiakannya bersifat khas karena melalui penyerbukan dalam air.
Padang lamun dapat ditemukan di sebagian besar perairan pulau dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Secara ekologis ekosistem lamun di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu merupakan habitat, tempat mencari makan dan berkembang biak berbagai jenis ikan, udang, teripang, cumi-cumi serta biota laut lainnya. Di perairan sebelah barat Pulau Kaliage Kecil dijumpai jenis cumi-cumi meletakkan telur-telurnya di daun-daun lamun sampai menetas padang lamun di sebelah barat. Di samping itu, keberadaan padang lamun di TNKPS dapat menstabilkan substrat dasar, daun-daun lamun akan menangkap sedimen dan mengendapkannya ke dasar sehingga perairan menjadi jernih. Padang lamun dapat ditemukan di sebagian besar perairan pulau dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa dan Pulau Harapan.

3. Karakteristik Lamun di Indonesia
Lamun (seagrass) meru¬pakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air, beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya mem¬bentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi per¬tumbuhan¬nya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta meng¬angkut hasil metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem). Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di terumbu karang.
Tumbuhan lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas Alismatidae sukunya Hydroecharitaceae dengan contoh jenis Syringodium isoetifolium tumbuhan ini mempunyai beberapa sifat yang memungkinkan hidup di lingkungan laut yaitu:
1. Mampu hidup di media air asin
2. Mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam
3. Mempunyai system perakaran jangkar yang kuat dan kokoh
4. Mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam keadaan terbenam
5. Daunnya mengandung banyak udara agar mudah mengapung di bawah permukaan air laut.
6. Dalam satu tumbuhan hanya ada bunga jantan saja atau bunga betina saja.
7. Buahnya terendam dalam air.
Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya seperti makro alga atau rumput laut (sea weeds). Deskripsi dari jenis-jenis Lamun yang ada di Indonesia dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
4. Padang Lamun Untuk Fauna Yang Berassosiasi
Beberapa avertebrata yang hidup di laut memakan daun lamun. Beberapa anggota dari Aplysidae dan bulu babi diketahui aktif memakan lamun, tetapi makanan utamanya bukan daun yang hijau (segar) tetapi algae yang berassosiasi dengan lamun. Contoh, dua jenis dari bulu babi, Paracentrotus lividus dan Arabica lixula yang umum hidup di padang Posidonia, Mediterranian, merayap kebagian atas daun lamun pada malam hari untuk memakan epifit makroalgae yang hidup pada bagian atas dari Posidonia. Bulu babi, Trongylocentrotus intermedius memakan daun hijau lamun Phyllospadix iwantensis yang tumbuh di daerah dengan substrat karang. Lamun menduduki rangking dua atau tiga dalam rantai makanan dan kriteria frekuensi keterdapatan, tetapi tersedia kurang dari 10% berat pada setiap bulu babi dewasa. Menurut percobaan makan dari bulu babi, kecepatan konsumsi lamun per hari sekitar 1/3 dari Laminaria sp. Dengan menggunakan kriteria efisiensi assimilasi berat, Phyllospadix menunjukkan lebih rendah secara umum dibandingkan dengan algae (Phyllospadix 32,4%, algae 56,7-83,4%). Avertebrata yang hidup di laut tidak dapat memakan karbohidrat karena mereka kurang mempunyai enzym. Di samping itu, tidak ada nilai makanan pada lamun untuk fauna karena rendahnya kecepatan penggunaan lamun. Tidak ada hal yang berarti dari ikan yang memakan lamun. Angsa dan bebek memakan lamun pada daerah ugahari yang dingin. Di Karibia dilaporkan adanya grazing lamun oleh bulu babi dan ikan baronang.
Berdasarkan basil analisis isi perut, banyak dari ikan memakan lamun, di mana ikan tersebut hidup. Beberapa ikan pelagis yang berenang secara bergerombol memakan daun Zostera. Variasi dinamika hubungan rantai makanan disebabkan oleh kehadiran atau ketidak-hadiran beberapa hubungan trofik oleh migrasi dari biota penghuni tetap atau sementara; adanya perubahan yang cepat dari perkembangan perubahan makanan oleh predator; dan adanya perubahan musiman dari kebiasaan makan oleh predator karena adanya variasi musiman terhadap melimpahnya makanan untuk fauna.
5. Fungsi dan manfaat Lamun
Lamun merupakan bagian dari beberapa ekosistem dari wilayah pesisir dan lautan yang perlu dilestarikan karena memberikan kontribusi pada peningkatan hasil perikanan dan pada sektor lainnya seperti pariwisata. Secara langsung dan tidak langsung memberikan manfaat untuk meningkatkan perekonomian terutama bagi penduduk di wilayah pesisir. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi sehinga dapat menjadi tempat hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Echinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta).
Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem karena Lamun merupakan sumber pakan bagi invertebrata, tempat tinggal bagi biota perairan dan melindungi mereka dari serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi. Lamun dapat menghalangi pemangsaan fauna bentos sehingga kerapatan dan keanekaragaman fauna bentos tinggi.
Fungsi optimum ini dapat tercapai apabila kondisi lingkungannya mendukung pertumbuhan dan perkembangan lamun. Padang lamun yang lebat dan sehat sangat berperan dalam kejernihan suatu perairan, dimana daun-daun lamun akan menangkap partikel sedimen dan menstabilkan substrat dasar, sehingga bila padang lamunnya bagus maka terumbu karangnya akan bagus dan juga sebagai tumbuhan tingkat tinggi satu-satunya di lautan, lamun menjadi penghasil oksigen (O2) yang sangat penting bagi kehidupan berbagai biota laut.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepunahan Lamun
Belakangan ini keberadaan Lamun di Indonesia mulai mengalami penurunan populasi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pemeliharaan dan peran Lamun bagi kehidupan
2. Kondisi kemiskinan masyarakat pesisir
3. Terbatasnya alternatif penghasilan untuk masyarakat lokal
4. Belum adanya pengelolaan padang lamun yang terintegrasi
5. Kelemahan hukum dan upaya penegakannya
7. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kepunahan Lamun
Dalam menghadapi gangguan langsung maupun tidak langsung yang dapat mengancam kepunahan populasi Lamun di Indonesia maka perlu dilakukan beberapa usaha pelestariannya antara lain :
1. Melakukan penyuluhan mengenai pentingnya Lamun bagi kehidupan ekosistem pantai
2. Rehabilitasi padang Lamun
3. Kegiatan penanaman Lamun
4. inventarisasi dan pemetaan padang lamun, monitoring dan perlindungan habitat lamun


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pada pembagian jenis tumbuhan mangrove terdiri dari Rhizophora sp., Ceriops sp., Exocoecaria sp., Lumnitzera sp., Bruguiera sp. dan Avicennia marina sedangkan pada pembagian jenis tumbuhan lamun terdiri dari Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halophila decipiens, Halophila minor, Halophila ovalis, Halodule pinifolia, Halophila spinulosa, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, Thalassodendron ciliatum, dan Thalassia hemprichii.
2. a. Karakteristik pada tumbuhan mangrove terdiri dari :
 Tanah
Jenis tanah pada hutan mangrove umumnya alluvial biru smpai coklat keabua-abuan. Tanah ini berupa tanah lumpur kaku dengan persentase liat tinggi yang tinggi, bervariasi dari tanah liat biru, dengan sedikit atau tanpa bahan organik, sampai tanah lumpur coklat hitam yang mudah lepas karena banyak mengandung pasir dan bahan organik.Kandungan kimia tanah hutan mangrove umumnya kaya akan bahan organik, dan mempunyai nilai nitrogen yang tinggi. Secara umum tanah hutan mangrove termasuk tanah alluvial hydomorf. Tanah ini tarafnya muda dan tergolong dalam tanah-tanah regosol atau entisol.
 Salinitas
Bagi kebanyakan pohon-pohon mangrove dan fauna penggali liang dalam tanah, salinitas air pasang mungkin kurang penting dibandingkan dengan salinitas air tanah. Salinitas air tanah umumnya lebih rendah dibandingka dengan air pasang diatasnya, hal ini disebabkan karena terjadinya pengenceran oleh air tawar (hujan) yang merembes ke dalam tanah. Bagi akar-akar pohon dan fauna penggali lubang, faktor terpenting bukan hanya kadar NaCl tetapi tekanan osmotik. Salinitas bervariasi dari hari ke hari dan dari musim ke musim. Selama siang hari salinitas lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan. Demikian pula pada musim pasang, salinitas akan turun dan cenderung untuk naik bila surut kembali.
b. Karakteristik pada tumbuhan lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga dan berpembuluh (vascular plant) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam air laut. Tumbuhan lamun jelas memiliki akar, batang, daun, buah dan biji. Lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas Alismatidae sukunya Hydroecharitaceae dengan contoh jenis Syrinsodium isoetifolium.
3. a. Organisme yang hidup pada hutan mangrove dibedakan menjadi kelompok Mikroorganisme dan Makroorganisme yaitu :
1). Mikroorganisme, Bakteri yang hidup pada substrak dasar di hutan mangrove berperan dalam proses perubahan senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Proses ini dinamakan proses mineralisasi.
2). Hewan darat yang berasosiasi dengan hutan mangrove seperti burung, kera berekor panjang ( Macaca fascicularis), ular, buaya, dan biawak.
3). Hewan Laut (tiram Crassostrea cucullata), siput ( Littoraria sp.), keong (Cassidulu sp.), seperti ikan glodok (Periophthalmus sp), kepiting Varuna yui, kepiting Uca sp, dan udang (Alpheis sp.)
b. Organisme yang hidup pada tumbuhan lamun beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Echinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta).
B. Saran
Saran yang saya berikan dalam makalah ini adalah sebaiknya diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai cakupan materi serta tujuan pembelajaran yang ingin di capai dari pokok bahasan tentang tumbuhan mangrove dan lamun khususnya lingkungan perairan laut.


DAFTAR PUSTAKA
Arief A. 2003. Hutan Mangrove : Fungsi dan Manfaatnya. Kanisius. Yogyakarta.
Barnes. R.S.K. 1974. Estuarine Biology. In : Studies in Biology No. 49 Edward Arnold Ltd. (pbl.) London, 76 pp.

Giesen W, Stephan W, Max Z, dan Liesbeth S. 2007. Thailand. Mangrove Guidebook For Southesth Asia. FAO and Wetlands International.
Komatsu, T., 1996. Influence Of Zostera Bed On The Spatila Distributon Of Water Flow Over a Broad Geographic Area In : Seagrass Biology (Jhon Kuo el al., eds) Proceeding of an International Workshop.

Odum, W.E & E.J. Heald, 1972. Tropic analysis ofan estuarine mangrove community. Bz,11. of
Marine Science 22 : 671 – 738.
Setyawan AD, Susilowati A, dan Sutarno. 2002. Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa. Kelompok Kerja Biodiversitas Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Short, F.T and S. W. Nixon, 1996. Long Term Decline In Eelgrass Zostera Marina, Lingked To Increased Housing Development In: Seagrass Biology (Jhon Kuo et al., des) Proceending Of An International Workshop.

Tomlinson PB. 1996. The botany of mangrove. Cambridge University Press. UK.
Wikipedia. 2011. Hutan Bakau. http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau. Diakses pada tanggal 27 Juli 2012 pukul 12.07 WIB.

Posted 25th February by suharno jhon
Labels: lamun dan mangrove

Subscribe
Subscribe
RSS Feed
• Add to Google Reader
• View RSS Feed
Loading
Send feedback

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/-N4Ga5m-tdRA/T-QDrvHnyKI/AAAAAAAAAYo/hlW7M-Rx7NM/s1600/3-3c.jpg&imgrefurl=http://nabilaarifannisa.blogspot.com/2012/06/pengelolaan-ekosistem-padang-lamun.html&usg=__0mS1vAs8BYJg6noRyfWQctTFJv4=&h=476&w=633&sz=77&hl=en&start=4&zoom=1&tbnid=A4ch5yZgnCmZKM:&tbnh=103&tbnw=137&ei=AS1pUZWRA4vIrQfvxYHYCg&prev=/search%3Fq%3Dlamun%26um%3D1%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26hl%3Den%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1&sa=X&ved=0CDIQrQMwAw

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://0.tqn.com/d/forestry/1/0/S/r/mangrove_edge.JPG&imgrefurl=http://forestry.about.com/od/rainforests/ss/mangrove_forest.htm&usg=__svmH-44bYhX_ZZu6eOY7hbOPSkA=&h=1452&w=2158&sz=859&hl=en&start=16&zoom=1&tbnid=cg0Sd7WwjbpZcM:&tbnh=101&tbnw=150&ei=IS5pUfu_A42GrAek-4HACQ&prev=/search%3Fq%3Dmangrove%26um%3D1%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26hl%3Den%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1&sa=X&ved=0CEoQrQMwDw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s